Sedikit Menyingkap Tirai Sejarah

Sedikit Menyingkap Tirai Sejarah

oleh Mardjono Reksodiputro

 

Tulisan ini mengambil bahan dari buku Asvi Warman Adam,2012,Menyingkap Tirai Sejarah - Bung Karno & Kemeja Arrow, Penerbit Buku Kompas. Ada sejumlah ceritera dalam buku ini yang mungkin dapat dikaitkan dengan tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa di tahun-tahun Prof Djokosoetono memimpin FH-UI (1950-1962).

Siapa Asvi Warman Adam ? Dia adalah doktor sejarah kelahiran Bukittingi, SumBar,Oktober 1954.Ahli Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Politik LIPI.

 

Soekarno lahir di Surabaya (bukan di Blitar) pada 6 Juni 1901. Asvi mengutip dari novel Akmal Nasery Basral “Presiden Prawiranegara” (2011) tentang insiden “lucu” dua orang yang berkawan: Soekarno dan Sjahrir, semasa ditawan Belanda (1948/1949). Ketika Soekarno menyanyi di kamar mandi, Soetan Sjahrir yang terganggu pernah membentak “houd je mond!” (tutup mulutmu !). Hal lain adalah Soekarno pernah minta kemeja Arrow (pada tahun-tahun 1940-an kemeja ini “ngetop” di Indonesia) kepada penjaga rumah tahanan dan hal ini diejek Sjahrir: “Kamu ini kan Presiden – kenapa minta-minta seperti itu – jaga martabat Bung !” (pada jaman Revolusi Kemerdekaan panggilan “Bung” adalah panggilan akrab dan hormat – seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Bung Tomo, dll). Insiden (anekdot ?) ini dijadikan sub-judul buku Asvi.

 

Bung Karno adalah juga seorang seniman.Tahun 1958 ia meminta Edhi Sunarso (seorang pematung di Jogja) untuk membangun patung “Selamat Datang” setinggi 9 meter (kemudian jadi 6 meter). Patung yang ada di muka Hotel Indonesia (Bundaran HI) ini kemudian turut menyambut para atlet dari luar negeri yang ikut dalam GANEFO  (Games of the New Emerging Forces) tahun 1963. Patung-patung lain yang dibuat adalah patung “Pembebasan Irian Barat” di Lapangan Banteng (tahun ???) dan patung “Dirgantara”, melambangkan Gatotkaca yang akan terbang (ada di Pancoran ke arah Pasar Minggu).Pada waktu patung ini selesai 1970 Bung Karno wafat. Interior dari Hotel Indonesia, konon juga diprakarsai oleh Bung Karno untuk menampilkan wajah budaya Indonesia. Wakil Gubernur Djakarta waktu itu adalah Henk Ngantung, yang seorang seniman dan membantu menyemarakkan Djakarta dengan berbagai patung dan barang-barang seni lainnya. (mr5/9/14)

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh