Mengenang Profesor Djokosoetono SH oleh Selo Soemardjan

MENGENANG PROFESOR DJOKOSOETONO SH*

Oleh Selo Soemardjan**

Di halaman Fakultas Hukum Universitas Indonesia di Rawamangun, Jakarta Timur, berdiri sebuah patung seorang pria, tiga kali lebih besar dari ukuran alamiah manusia Indonesia. Patung itu berdiri tegak, pandangan matanya menyinarkan jiwa yang penuh dengan ilmu dan rasa kemanusiaan, senyum yang sayup-sayup menghias bibirnya mencerminkan perhatiannya ter­hadap susah-sedih dan riang-gembira yang silih berganti menghampiri manusia dalam hidupnya di dunia ini. Di bawah patung itu tertulis dengan huruf-huruf jelas :

Prof. DJOKOSOETONO, SH (5-12-1908 / 6-9-1965 ) AKU TAK DAPAT MENINGGALKAN APA-APA KEPADA ANAK-ANAKKU AKU HANYA MENINGGALKAN NILAI-NILAI YANG IDIIL

Itulah patung Profesor Djokosoetono, perintis dan Dekan pertama Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pak Djoko, demikianlah nama pang­gilannya di kalangan rekan dan mahasiswanya, adalah lebih dari itu.

Pak Djoko bersama-sama dengan Prof. Sunarjo Kolopaking dan Prof. Priyono adalah pendiri Akademi Ilmu Politik atau AIP di Yogyakarta pada tahun 1946. AIP itu dibentuk atas prakarsa Menteri Dalam Negeri Mr. Moh. Roem untuk memenuhi kebutuhan kader pemerintahan dalam negeri, per­wakilan pemerintah di luar negeri dan di dunia pers dalam suasana revolusi nasional. AIP itu kemudian dilebur dalam Universitas Gajah Mada sebagai modal untuk membentuk Fakultas Sosial dan Politik yang pada waktu per­mulaan tergabung dengan Fakultas Hukum dan Ekonomi. Peranan Pak Djoko dalam pembentukan dan pengisian gabungan ketiga fakultas itu sekiranya tidak dapat dilupakan.

Karena usaha Pak Djoko pula terbentuk Akademi Polisi yang semula ditempatkan di Mertoyudan, dekat Magelang, dan kemudian dipindahkan ke kota Yogyakarta. Pada waktu Pemerintah Republik Indonesia pada awal tahun 1950 pindah kembali dari Yogyakarta ke Jakarta maka Pak Djoko ikut kembali ke Ibu Kota Republik Indonesia untuk melanjutkan usahanya dalam bidang pembangunan pendidikan tinggi.

Dengan menggunakan Geneeskundige Hogeschool dan Rechtshoogeschool yang ditinggalkan oleh Pemerintah Nederlands Indie sebagai modal dasar maka Pak Djoko dengan rekan -rekan guru besar lainnya mendirikan Universitas Indonesia. Pak Djoko menjadi Dekan pertama Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, yang kemudian berkembang menjadi dua fakul­tas, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial. Di Universitas Indonesia Pak Djoko juga pernah menjabat Dekan Fakultas Ekonomi, meski­pun tidak terlalu lama.

Di luar Universitas Indonesia Pak Djoko berperan besar dalam pemin­dahan Akademi Polisi dari Yogyakarta ke Jakarta dan selanjutnya meningkat­kannya menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian atau PTIK. Sebagai perin­tis PTIK Pak Djoko akan selalu diingat karena berhasilnya meletakkan dasar- dasar ilmu kepolisian di Indonesia yang sampai sekarang tetap menjadi landasan kelangsungan PTIK.

Dedikasi Pak Djoko kepada penelitian di bidang ilmu Kepolisian demi­kian luas dan mendalamnya, sehingga beliau telah berhasil menemukan rumus­an tentang keperibadian Kepolisian Indonesia. Rumusan tersebut kemudian diletakkan dalam "Tri Brata" yang sejak tanggal 1 Juli 1955 diresmikan se­bagai pedoman hidup Kepolisian Republik Indonesia.

Jasa besar lain yang diberikan oleh Pak Djoko adalah dalam perintisan, pembentukan dan selanjutnya pengembangan Akademi Hukum Militer di Jakarta, yang kemudian tumbuh menjadi Perguruan Tinggi Hukum Militer atau disingkat PTHM.

Bekas murid-murid Pak Djoko dari berbagai perguruan tinggi itu kini banyak yang menduduki tempat yang berpengaruh dalam pemerintahan, dalam Angkatan Bersenjata, dalam perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, dan di dunia swasta. Sudah barang tentu banyak pula bekas muridnya yang mengikuti jejaknya dan mengolah ilmu di perguruan tinggi sebagai dosen.

Mengenai tulisan yang ada di bawah patung Pak Djoko di halaman Fakultas Hukum Universitas Indonesia seperti terkutip di atas sekiranya perlu diberikan penjelasan. Gelar kesarjanaan yang tertulis di belakang nama Prof. Djokosoetono adalah gelar SH (Sarjana Hukum) dan bukan gelar Mr (Meester in de Rechten). Hal ini ada riwayatnya. Banyak sarjana hukum yang mendapat gelar Mr di zaman kolonial Belanda berpendapat bahwa tidak tepat kalau mereka menggantikannya dengan gelar SH. Alasannya, gelar yang mereka dapat secara formal adalah gelar Mr dan hal itu disebut dalam ijazah mereka, sedang ijazah itu sampai sekarang tidak pernah diubah. Namun ada juga sarjana hukum dengan gelar Mr berpendapat, bahwa gelar itu mutunya lebih tinggi daripada gelar SH. Mereka berpendapat bahwa mutu pendidikan hukum di zaman kolonial Belanda lebih tinggi daripada mutu pendidikan hukum dalam Negara Republik Indonesia yang sudah merdeka. Dengan demi­kian maka perlu dibedakan gelar Mr dari gelar SH.

Pendapat yang terakhir ini tidak dapat diterima oleh Pak Djoko. Beliau berpendapat bahwa pendidikan hukum di zaman sebelum perang dunia kedua berbeda daripada pendidikan hukum sesudah perang, akan tetapi itu tidak berarti bahwa mutu yang satu lebih tinggi daripada mutu lainnya. Pendidikan hukum di Indonesia sebelum perang dunia kedua banyak disandarkan pada sistem hukum di negeri Belanda, sedang pendidikan hukum sesudah perang lebih banyak diarahkan kepada keadaan di dalam negeri Republik Indonesia yang sudah merdeka dan berdaulat. Untuk menunjukkan bahwa pendapat beliau itu bukan khayalan belaka maka Pak Djoko dengan sadar dan dengan pertimbangan yang masak memutuskan untuk menggantikan bagi dirinya sendiri gelar Mr dengan gelar SH.

Di bawah patung Pak Djoko itu ditulis juga: 5-12-1908 / 6-9-1965 yang tentunya berarti bahwa Pak Djoko lahir pada tanggal 5 Desember 1908 dan wafat pada tanggal 6 September 1965. Menurut keterangan dari fihak keluarga maka hari lahir Pak Djoko bukannya tanggal 5 Desember 1908, akan tetapi 5 Desember 1904. Oleh karena itulah peringatan Dasa Windu lahirnya Pak Djoko bukannya diadakan nanti pada tahun 1988, akan tetapi pada tahun 1984. Hanya saja karena tanggal 5 Desember 1984 kebetulan sekali hari besar Islam, yaitu Maulud Nabi, maka untuk tidak mengganggu perayaan hari besar agama itu peringatan Dasa Windu tadi diundurkan satu hari dan dijatuhkan pada tanggal 6 Desember 1984.

Selanjutnya di bawah patung itu dapat dibaca kata-kata: "Aku tak da­pat meninggalkan apa-apa kepada anak-anakku. Aku hanya meninggalkan"ni­lai-nilai yang idiil". Menurut keterangan Ibu Djokosoetono kata-kata senada itu diucapkan oleh Pak Djoko beberapa saat sebelum beliau meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya. Yang dimaksudkan adalah bahwa Pak Djoko menyadari bahwa beliau tidak meninggalkan warisan dalam bentuk karya tertulis kepada para muridnya. Karena itu beliau mengharapkan agar murid- muridnya selalu ingat moral luhur yang menjiwai kuliah-kuliah serta wejangan - wejangan beliau, baik di dalam maupun di luar kelas.

Banyak di antara rekan dan murid Pak Djoko yang berkali-kali menya­rankan kepada beliau, agar menulis buku yang memuat ilmu yang beliau miliki. Bahkan beberapa orang di antara para muridnya bersedia menuliskan ajaran- ajaran beliau atas dasar uraian lisan beliau untuk kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Buku itu selain dapat menyebarkan ilmu Pak Djoko di kalangan yang lebih luas daripada kalangan murid-muridnya belaka, buku itu juga akan merupakan warisan yang amat berharga bagi mereka yang ingin mempelajari gagasan-gagasan beliau. Atau dalam bahasa Jawa, yang "ingin ngangsu kawruh" beliau. Namun Pak Djoko senantiasa menolak. Kita mengerti dan menghargai sikap Pak Djoko dalam hal ini.

Pak Djoko adalah seorang sarjana yang dengan seluruh jiwa dan fikiran­nya hidup di dalam ilmu, khususnya ilmu hukum yang murni. Menurut beliau ilmu murni tidak pernah sempurna. Ilmu selalu tumbuh dan berkembang. Demikian juga ilmu hukum yang dipelajari oleh Pak Djoko dan yang selama hidup beliau usahakan pertumbuhan dan perkembangannya kearah yang lebih sempurna. Dalam usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan jujur sebagai seorang "geleerde" itu beliau menyadari bahwa taraf ilmu hukum yang telah beliau capai masih banyak menunjukkan kekurangan dan kelemahan. Setiap kali Pak Djoko memperdalam pengetahuannya dalam sesuatu bidang hukum maka setiap kali pula beliau menyadari kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu Pak Djoko selalu merasa belum sampai waktunya untuk mem­bukukan pengetahuannya, meskipun orang-orang lain berpendapat bahwa pengetahuan beliau itu sukar mendapat bandingannya di tanah air kita.

Sebagai bekas murid guru-guru besar Belanda di Rechtschoogeschool di Batavia (sekarang Jakarta) sebelum perang dunia kedua maka dasar ilmu hukum Pak Djoko dibentuk oleh guru-guru besar Belanda itu. Namun dasar itu beliau lebarkan dengan unsur-unsur yang beliau gali dari karangan-karang­an para pujangga hukum dan filsafat Jerman, Perancis dan Inggris klasik. Pandangan ilmiyah yang luas itu kemudian beliau perkuat dengan unsur-unsur dari filsafat para pujangga Jawa apabila Pak Djoko membahas masalah-masalah Indonesia di bidang hukum. Buah fikiran Ronggowarsito, serat Wedatama, serat-serat babad, bahkan serat Centini pun Pak Djoko kenal dengan men­dalam. Lebih dari itu Pak Djoko mampu untuk mengambil sarinya dan meng­hubungkannya dengan ilmu hukum dari dunia Barat untuk disajikan dalam kuliah-kuliah beliau.

Pada umumnya para murid Pak Djoko memandangnya tidak hanya se­bagai guru belaka, akan tetapi Pak Djoko mereka hargai pula karena fatwa- fatwa yang amat berharga sebagai bekal hidup manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia, dengan negara dan dengan Tuhan. Dengan bahasa Jawa maka Pak Djoko dapat dinamakan "Guru Pinandita", yaitu seorang guru yang berjiwa pandita.

Dalam keadaan revolusi yang penuh dengan pergolakan sosial dan poli­tik di dalam negeri Pak Djoko sambil memberi kuliah tidak segan-segan meng­kritik partai-partai, para pemimpin, Pemerintah, bahkan Presiden Sukarno sendiri yang pada waktu itu sedang berada pada puncak kekuasaannya dan seolah-olah "idu geni". (Bahasa Jawa: mampu meludah api; kata-kata yang diucapkannya dapat memusnahkan siapa saja, tetapi juga dapat membakar semangat rakyat).

Kritik Pak Djoko selalu jelas, jujur, dan beralasan. Namun kritik itu tidak pernah mengandung pamrih pribadi, akan tetapi dilontarkan buat ke­pentingan negara dan masyarakat. Karena Pak Djoko tidak pernah menjadi anggauta suatu partai politik dan tidak pernah memihak apabila ada perten­tangan politik di dalam negeri, maka kritik Pak Djoko biasanya diterima dengan baik oleh semua fihak yang terkena. Mungkin sifat-sifat sebagai manusia yang sepi ing pamrih inilah yang pantas kita terima sebagai warisan dari Pak Djoko.

Menjelang tanggal 5 Desember 1984, yaitu hari kelahiran Pak Djoko yang ke 80, atas prakarsa Ibu Djokosoetono dibentuk sebuah panitya kecil yang terdiri dari beberapa orang bekas murid dengan maksud memperingati Dasa Windu kelahiran beliau.

Anggota-anggota Panitya tersebut adalah :

Sdr. Drs. Soeparno Soeria Atmadja (Alumnus PTIK) ;

Sdr. Abdul Kadir Besar, SH (Alumnus PTHM) ;

Sdr. T.M. Daud Shah, SH (Alumnus FH-UI) merangkap sebagai Sekretaris

dan kami sendiri sebagai Koordinator.

Untuk keperluan itu panitya berusaha mengumpulkan data mengenai riwayat hidup Pak Djoko. Dari fihak keluarga yang berada di Jakarta maka kemudian dapat diketahui bahwa Pak Djoko adalah putra dari R.Ng. Martopradoto, seorang priyayi yang mengabdi di kraton Kasunanan Surakarta sampai mendapat pangkat Panewu. R.Ng. Martopradoto, dan juga isterinya, ingin sekali mempunyai anak laki-laki, namun Tuhan menghendaki bahwa enam orang anak mereka yang lahir berturut-turut adalah semuanya perem­puan. Sesudah lahir anak perempuan yang ke-enam maka R.Ng. Martopradoto suami-isteri bersikap pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sampai sembi­lan tahun kemudian mereka tidak diberi kerunia anak. Akan tetapi akhirnya doa mereka dikabulkan oleh Tuhan dan mereka diberi momongan laki-laki sebagai anak ragil (bungsu) yang mereka beri nama Djokosoetono.

Anak ragil Djokosoetono itu dibesarkan dengan penuh kasih sayang, bahkan dimanjakan, oleh orang tua dan enam orang kakak perempuannya di rumah keluarga di-kampung Keparen, Solo. Namun di dalam struktur ke­luarga yang demikian Djokosoetono selalu merasa dirinya kecil dan rendah diri menghadapi saudara-saudaranya yang semuanya jauh lebih tua daripadanya. Ia kemudian menunjukkan kecerdasannya setelah menjadi murid HIS (Hollands Inlandse School) di Solo. Karena gemarnya membaca, baik huruf latin maupun huruf Jawa, maka setiap buku dan setiap lembaran kertas yang ada tulisannya dibaca olehnya, dan yang penting diingat isinya. Dari HIS Djokosoetono naik sekolah ke Gouvernements MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, dapat disejajarkan dengan SMP sekarang), dan selanjutnya ke AMS-B (Algemene Middelbare School bagian B, dapat disamakan dengan SMA bagian IPA sekarang) di Yogyakarta.

Selama sekolah di Solo Djokosoetono rajin belajar tarian Jawa di dalam perkumpulan kesenian Kridowatjono yang dipimpin oleh seorang pemuda yang kemudian bernama Wongsonegoro. Salah seorang kawan belajar menari adalah Supomo yang di dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dikenal umum dengan nama Prof. Mr. Dr. Supomo. Meskipun dia sendiri tidak main olah raga, akan tetapi Djokosoetono berhasil mendirikan suatu perkumpulan sepak bola dengan teman-temannya sesekolah. Anehnya, teman-teman itu rela dipimpin oleh seorang non-playing captain, mungkin karena mereka mengakui keunggulannya di dalam kelas sekolah.

Setelah lulus pendidikan di AMS-B Yogyakarta Djokosoetono diterima menjadi mahasiswa di Rechtschoogeschool (Perguruan Tinggi Hukum) di Batavia. Mahasiswa dari Solo itu di antara para teman-teman dan guru-guru­nya dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas, tetapi dilanda oleh watak malu yang ta' pernah dapat dilepaskan. Baik di AMS-B di Yogyakarta maupun di Rechtschoogeschool di Batavia Djokosoetono dikenal juga sebagai murid yang tidak pernah berani menempuh ujian formal, akan tetapi selalu lulus karena ujiannya diselenggarakan oleh guru atau dosennya dengan cara santai dan terselubung. Mahasiswa Djokosoetono tampak berbeda dari teman-temannya. Pada umumnya teman-temannya kalau pergi ke kuliah naik sepeda, yaitu alat transport yang paling murah. Mahasiswa Djokosoetono selalu naik dokar, karena tidak dapat naik sepeda.

Pak Djoko wafat di Jakarta dan dikebumikan di makam pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.

Demikianlah Pak Djoko dalam pandangan para anggauta keluarganya dan kawan-kawannya yang sebaya, sebelum beliau dikenal oleh para muridnya. Dengan adanya berbagai pandangan itu maka buat peringatan DasaWindu ini

panitya mengetuk hati para rekan dan bekas murid Pak Djoko untuk mem­berikan sumbangan karangan yang akan dimuat sebagai sumbangsih dalam sebuah buku kenangan. Buku ini dipersembahkan kepada Pak Djoko, Guru Pinandita bagi para muridnya.

Tanggapan yang didapat oleh Panitya amat memuaskan seperti yang dapat dilihat dari isi buku ini. Tulisan-tulisan dan karangan-karangan yang dimuat dalam buku ini membuktikan betapa besar wibawa Pak Djoko di mata para muridnya, tetapi juga betapa dekat hubungan guru dan murid itu.

Ibu Djokosoetono dan Panitya melalui jalan ini mengucapkan terima kasih kepada semua penyumbang tulisan dan karangan buat buku ini. Dengan perantaraan buku ini kita semua dapat mencurahkan rasa hormat dan rasa terima kasih kita sebagai kawan atau sebagai murid kepada Pak Djoko, guru dan panutan kita dalam masa perjuangan dan pembangunan.

Berhubung dengan sangat terbatasnya waktu yang tersedia maka seluruh karangan yang disampaikan kepada kami tidak dapat di-edit sebagaimana mestinya. Oleh karena itu diharap pengertian dari para penulis dan hendak­nya para pembaca memakluminya.

Semoga buku Guru Pinandita ini dapat melestarikan dan menyebarkan wasiat ta' tertulis yang ditinggalkan oleh Pak Djokosoetono sebagai pegangan hidup kita selama-lamanya.

Jakarta, 5 Desember 1984.

Selo Soemardjan

* Tulisan ini dikutip dari buku Guru Pinandita : Sumbangsih untuk Prof. Djokosoetono, S.H., Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1984.

** Almarhum meraih gelar Guru Besar dari Fakultas Ekonomi UI, merupakan Dekan pertama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI, dan aktif mengajar di Fakultas Hukum UI.

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh