Kutipan dari pidato Prof. Djokosoetono 26 Oktober 1956

Kutipan dari pidato sambutan Prof. Djokosoetono selaku dekan Fakultas Hukum & Pengetahuan Masyarakat, Universitas Indonesia, pada malam resepsi Dies Natalis VI Senat Maha­siswa fakultas itu pada hari Jumat malam tgl. 26 Oktober 1956

di Aula Salemba 4, Jakarta *

Oleh Selo Soemardjan **

 

Di dalam pidatonya Prof. Djokosoetono memberi penjelasan mengenai pertanya­an mengapa setiap tahun diperingati Hari Ulang Tahun Universitas Indonesia dan juga Hari Ulang Tahun tiap-tiap fakultas.

Di dalam kutipan ini ejaan lama diubah menjadi ejaan baru.

Dan untuk menjawab dua pertanyaan tadi, ya'ni mengenai dua macam kebiasaan yang timbul semenjak diadakannya Universitas Indonesia tadi maka menurut faham kami jawabnya adalah terletak dalam arti gaib. Kalau kami terangkan bahwa timbulnya dua macam kebiasaan tadi dapat dihubungkan dengan arti gaib yang tersimpul dalam perayaan hari ulang tahun, janganlah dikira bahwa uraian kami nanti akan bersandarkan ilmu gaib atau ilmu klenik yang sekarang timbul di mana-mana seperti umpamanya mengadakan "purnama siden", mengadakan perhimpunan ilmu gaib untuk mengadakan meditasi dan sebagainya.

Jadi untuk menghindarkan diri daripada sangkaan bahwa uraian kami akan bersandarkan ilmu klenik, maka bahan akan kami ambil semata-mata daripada bahan-bahan perpustakaan barat, yaitu karangan dari Prof. W.B. Kristensen, dulu guru besar di dalam mata pelajaran Geschiedenis der Gods- diensten in het Algemeen dan sekarang digantikan oleh Prof. Kramer. Ka­rangan-karangan serta bahan-bahan yang akan kami ambil dari karangan

Kristensen tadi adalah dua macam, yaitu karangannya yang berkepala "Kring- loop en Totaliteri" dan "Het Leven uit den Dood." Jadi bahan-bahan akan kami ambil dari karangan seorang ahli Godsgeleerdheid, seorang ahli agama. Jadi kira-kira tuan percaya bahwa uraian-uraian itu tidak akan menyinggung ilmu klenik, akan tetapi secara ilmiyah.

Jadi kata gaib itu dipandang dari sudut agama, goodsdienstige beteeke- nis, yang selalu tersimpul di dalam perayaan hari ulang tahun atau pada umumnya hari ulang waktu. Dan dari bahan-bahan yang mengenai hari ulang waktu itu bahan-bahan yang paling lengkap dan tegas adalah mengenai "Lustrum", yaitu perayaan yang diadakan saban lima tahun.

Di sini telah tersinggung bahwa waktu itu tidak merupakan suatu ren­tetan detik, tidak semata-mata merupakan suatu urutan masa, tetapi di dalam ' mengalirnya waktu itu terdapat fragmenten, terdapat bagian-bagian yang mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia.

Tuan ingat saja kepada perhitungan hari baik dan buruk, kalau umpa­manya ada orang yang mau disunatkan, kalau ada perayaan perkawinan dengan misalnya mengadakan "petungan" lebih dahulu, memilih hari baik dan menghindarkan diri daripada hari yang jelek. Jadi tentang waktu itu untuk kita sesungguhnya tidak asing lagi. Walaupun sudah serasionil-rasionil- nya sampai umpamanya tidak mau mengakui kebudayaan aslinya, sudah ke­barat-baratan, akan tetapi sering kalau seseorang hendak kawin ia memilih hari yang baik. Jadi bagi kita arti kualitatif daripada waktu itu sesungguhnya tidak asing lagi.

Ingat saja pada petungan-petungan, pawukon-pawukon, dan hal ini sudah disinggung dan diuraikan oleh Dr. Pigeaud di dalam karangannya "Javaansche Wichelarij" dan klasifikasi yang termuat dalam bundel Bata- viaasche Genootschap.

Hari mempunyai arti kualitatif; mempunyai arti baik dan arti jelek itu tidak asing lagi bagi kita bangsa Indonesia. Dan apakah arti lustrum, apakah maksud suatu lustrum ?

Maksudnya dan arti gaibnya sesungguhnya telah tersimpul di dalam istilah itu sendiri, yaitu bahwa Lustratio itu berarti reiniging, pembersihan dalam arti membersihkan dengan mandi, pengudusan, heiliging, heerlijkheid, kebesaran. Bahwa orang yang gereinigd pada upacara lustrum itu berarti ia menjadi heilig, menjadi kudus, dekat dengan Tuhan, mendapat hidup abadi.

Perayaan hari ulang waktu itu tidak hanya dapat dihubungkan dengan arti gaib yang tersimpul dalam lingkaran, cirkel, kringloop, cyclus, akan tetapi juga dapat dihubungkan dengan totaliteri, keseluruhan, atau kesegenapan.

Sehingga dengan demikian dapatlah gerechtvaardigd, dapatlah diper­tanggung jawabkan bahwa di samping terdapatnya hari ulang tahun Univer­sitas pada umumnya, maka masing-masing Fakultas mungkin mengadakan perayaan hari ulang tahun tersendiri yang diadakan oleh Senat Mahasiswa.

(Pidato yang lengkap dimuat dalam Buku Peringatan Dies Natalis ke-VI Senat Mahasiswa Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta, 1956.)

* Tulisan ini dikutip dari buku Guru Pinandita : Sumbangsih untuk Prof. Djokosoetono, S.H., Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1984.

** Almarhum meraih gelar Guru Besar dari Fakultas Ekonomi UI, merupakan Dekan pertama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI, dan aktif mengajar di Fakultas Hukum UI.

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh