Djokosoetono Guruku oleh Bismar Siregar

DJOKOSOETONO  GURUKU *

Oleh  Bismar Siregar**

 

I. Kusebut nama langsung tanpa embel-embel adakah gelar Profesor atau Meester in de Rechten istilah dahulu, Sarjana Hukum penyebut sekarang atau­pun titel kebangsawanan yang dimiliki oleh almarhum, karena berbuat demi­kian saya merasa lebih dekat sebagai murid kepada beliau. Mungkin ada orang yang bersikap dan menuding saya ini kurang ajar tidak tahu tatakerama yang berlaku di dunia Timur apalagi menurut adat Jawa yang sangat menghormati, kecuali ketuaan seorang juga derajat kedudukannya dalam masyarakat.

Saya dapat memahami bila ada anggapan seperti itu. Tetapi adalah menjadi hak asasi saya untuk dapat berbuat sesuatu yang menurut hemat saya itulah cara yang paling tepat dan paling dekat dengan almarhum, walau­pun dicap tidak bertepo seliro. Maafkanlah, tidak terkandung maksud apa-apa kecuali tulus dan ikhlas, dan bukanlah kepada Tuhan juga akan lebih merasuk rasanya, bila pada saat berucap do'a : "Kepada Engkau, ya Tuhan kupanjat- kan do'a ini ?!!"

Tidak dapat disangkal sampai sekarang ini titel, pangkat dan jabatan merupakan identitas harga diri yang untuk sementara orang tidak boleh di­abaikan. Bukan tidak sedikit karenanya orang yang naik tensi darahnya, bila lupa disebut gelar pangkat atau jabatannya. Bahkan bukan hanya gelar kesarjanaan atau pangkat formal yang dibanggakan, gelar haji yang diper­oleh berdasar rukun Islam berupa sertifikat antara seorang dengan Tuhannya tidak terkecuali, sekiranya tidak disandangkan bersama namanya bisa mencak-mencak tujuh keliling. Sungguh aneh dan ajaib rasanya. Mencak yang berpangkal pada sifat marah, marah yang tidak beralasan pula, bukanlah ciri dan sifat orang yang beriman, tetapi itulah fakta itulah sebagian lukisan anggota masyarakat sampai sekarang ini. Kebanggaan diri ditonjolkan se­baliknya kerendahan hati diabaikan.

Tidak heran karenanya meledak reaksi atas gagasan Men.Dik.Bud. untuk menghapuskan gelar kesarjanaan. Ada yang membela tetap dipertahan­kan, alasannya sudah diperoleh dengan susah-susah, kok seenaknya mau di­tiadakan ! Alhamdulillah, khabar yang sempat menggoncangkan itu ternyata hanya akibat cerita burung, dan sayangnya cerita burung demikian sungguh banyak beredar sekarang. Ternyata yang benar ialah, sekedar mengindonesia­kan gelar kesarjanaan itu. Suatu kebijaksanaan yang terpuji dan patut di­hargai.

Dapatlah disimpulkan arti dan makna status bagi manusia di Negara ini sungguh menentukan, karena itu upaya berlomba cara terhormat atau bukan itu soal kedua, status harus ada di tangan. Coba lihat berapa banyak orang yang berganti nama dari nama asal yang diperoleh dari nenek leluhurnya, dialihkan menjadi nama yang indah, sebutlah Wijaya Kusuma bahkan nama Muhammad yang Rasulullah, junjungan umat Islam dipergunakan sedangkan ia tidak termasuk umatnya.

Memperbedakan kedudukan seseorang dari yang sebenarnya tidak ber­tentangan dengan kaidah yang hidup di dalam masyarakat. Perbedaan antara manusia, bukan ditentukan oleh warna kulit, keturunan akan tetapi oleh taqwa, taqwa kepada Tuhan. Demikian difirmankan Tuhan dalam surat al Hujurat 13. Tetapi ciri perbedaan tetap diakui antara lain, "Tidak beragama namanya orang yang tidak berilmu dan tidak berilmu namanya orang yang tidak beragama" (Hadist), "tiap-tiap orang beroleh derajat apa menurut pekerjaannya" (Surat al-An'am 132), juga firman Tuhan: "Allah akan me­naikkan derajat orang yang beriman dan yang diberi pengetahuan diantara kamu" (Surat Al-Mujadilat 11). Demikian digariskan kedudukan dan dera­jat seseorang dihadapan Tuhan, berdasar hadis Nabi juga Qur'an sumber hukum bagi mereka yang beragama Islam. Singkatnya perbedaan status dalam kehidupan bermasyarakat dibenarkan dan diakui. Yang tidak seyogianya ialah, bila dilakukan berlebih-lebihan, apalagi sampai pada sifat sombong dan angkuh, seperti disebut di atas, kalau lupa mencantumkan gelar dan keduduk­annya jadi sebab untuk berang dan merajuk, yang berakibat antara lain suka dan disukai.

Mengenang pribadi seseorang bagi yang beriman kepada Tuhan, ia hanya akan mengenang kebaikan, sebaliknya mengabaikan yang tidak atau­pun kurang baik. Mengenang kebaikan berarti sekaligus memanjatkan do'a meminta safa'at, apabila bagi seorang yang pernah berbuat kebaikan terhadap dirinya tentu merupakan perbuatan yang sangat terpuji dan disenangi oleh Tuhan. Inilah antara lain salah satu penyebab hati tergerak untuk ikut serta menulis tentang guru saya bernama Djokosoetono pada saat memperingati hari lahirnya tanggal 5 Desember 1984 ini disertai do'a : "Ya Tuhan, terima­lah segala amal kebajikannya dan ma'afkan segala kesalahannya. Amin, ya Robballalamin..".

 

II. Mengenang Djokosoetono tidak dapat melepaskan diri dari peristiwa- peristiwa yang terjadi bersama almarhum, baik sebagai guru besar dan atau­pun sebagai Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, namanya pada waktu itu. Sebagai guru besar sungguh banyak ilmu yang ditimba dari padanya. Masih kuat dalam kenangan, betapa taatnya beliau kepada ketentuan yang digariskan, sebutlah jadwal kuliah yang dipegang dan menjadi tanggung jawabnya selalu ditepati menurut waktunya. Demiki­an pula dalam menjadwalkan ujian adakah yang disebut tentamen ataupun kenaikan tingkat, tidak perlu mahasiswa resah dan gelisah bolak-balik me­nunggu dan menanti, apalagi dengan hak veto berkata : "Nasib anda ditangan saya, mau apa ?", yang seringkali menghantui sementara mahasiswa sampai saat ini, walaupun tidak dari semua dosen/pendidik. Oleh sebab itu tidak pernah menjadi alasan dan halangan bagi siapa saja yang bernaung di bawah pimpinan almarhum, bila berhajat dan memang mampu menyelesaikan pelajarannya lebih awal dari jadwal yang ditentukan, dipersilahkan ! Semua untung, pemerintah yang membiayai pendidikan untung, masyarakat de­mikian pula, tidak terkecuali yang bersangkutan sendiri berikut keluarganya tentunya. Sebaliknya tidak pula menjadi hambatan bagi mereka yang ingin bersantai, karena tidak ada yang diburu, mungkin yang dicapai bukan S.H., tetapi cukup M.A. mahasiswa abadi. Apakah kebijaksanaan seperti itu yang lebih baik, dibandingkan dengan pola studi terpimpin sekarang dengan sistem kredit segala, sulit dipastikan masing-masing tentu mempunyai keku­rangan dan kelebihan. Tugas para pemegang kebijakanlah menelitinya, agar tercapai hasil yang baik, baik untuk semua fihak.

Salemba No. 4. Itulah alamat yang tetap dan kesitulah tujuan setiap hari. Salemba No. 4 dewasa ini bukan lagi milik bersama dengan Fakultas lain seperti Fakultas Ekonomi, walaupun mungkin secara historis, Fakultas Hukum lebih berhak untuk bertetap di Salemba 4 itu. Fakultas Hukum telah hijrah di Rawamangun dan akan bersiap-siap pula untuk digusur ke kampus di Depok. Namun asal untuk kebaikan dan perbaikan bersama tanpa perlu menonjolkan aku musyawarah asasnya, janganlah ciptakan alasan untuk berkecil hati. Apalagi bagi mereka yang dahulu hanya mengenal Salemba 4 sekarang apa yang disebut gedung Fakultas Hukum sudah tidak berbekas. Bekas secara fisik benar telah tiada. Tetapi apakah hasil cetakan yang di­sebut sarjana hukum dan sudah menyebar keseluruh nusantara, bukan hanya di instansi Pemerintah telah menempati berbagai macam dan tingkat jabatan dan kedudukan juga tidak sedikit yang berkecimpung menjadi wiraswasta yang berhasil pula. Sebutlah sebagai contoh Baramuli, S.H. yang menguasai Poleko Group, langkahnya gesit serba cepat menyesuaikan diri dengan alam dan situasi dari Jaksa Tinggi menjadi Gubernur Sulawesi Utara, lestari pula sebagai anggauta DPR/MPR. Juga lihatlah Iwan Tirta, S.H. yang nama leng­kapnya Nusyirwan Tirtaamijaya yang tidak memanfaatkan ilmunya di­bidang hukum, namun siapa meragukan ia gagal dibidang yang tidak ber­kaitan dengan hukum, yakni cipta busana menurut cerita akan berkelana menjelajah Texas, benua Paman Sam sana. Masih perlu disebut yang bernama Djukardi Odang, S.H. Dirut salah satu Perusahaan Negara. Tidak seorangpun seyogianya menyangkal peranan para pendidik ikut me­nanam dan membina kepribadian, percaya pada diri sendiri mengembangkan ilmu yang diajarkan di samping mengamalkannya.

Kalau itu beberapa contoh di bidang wiraswasta tidak terabaikan yang bergerak di lapangan profesi hukum, baik sebagai pengacara sebutlah Haryono Tjitrosoebono, S.H., Tasrif, S.H. yang sekarang memilih dibelakang meja dari turun di arena pertarungan hukum, juga tidak terkecuali Talas Sianturi, S.H. yang dengan gaya khas sering membawa khotbah pendeta meyakinkan disamping mempesona para penghadir sidang tidak terbilang pula yang lain-lain seperti Adnan Buyung Nasution, S.H. Belum lagi dalam jabatan dan keduduk­an Jaksa dari yang mulai kariernya sampai di jenjang tertinggi namanya Jaksa Agung Muda sebutlah M. Salim, S.H., Abdul Wiriadikusuma, SU., M. Sadli, S.H., tidak lupa pula yang bernama Ismail Rahardjo, S.H. sekarang beralih jadi Hakim Agung di lembaga kehakiman tertinggi negara juga Poerwoto Gandasoebrata, S.H. Wakil Ketua Mahkamah Agung, R.Z. Asikin Kusuma Atmadja, S.H., H. Adi Andojo Soetjipto, S.H., Ny. H. Martina Notowidagdo, S.H., dll. Sedang yang dari PTHM, tercatat Soedarmono, S.H. Sekretaris Negara, Ismail Saleh, SU., Ali Said, S.H., Hari Soeharto, S.H., Trio Penegak Hukum sekarang tidak terluput Bapak Moedjono, S.H. almarhum, sungguh tidak terhitung deretan nama-nama itu, mengingatkan siapapun juga untuk berkata : "Pak Djokosoetono, sungguh besar jasamu mengantar kami ke arena pengabdian untuk nusa dan bangsa sekarang ini."

 

III. Mungkin bagi saya mempunyai kesan tersendiri. Memang benar. Terma­suk diantara orang yang mendapat rakhmat Ilahi dari kemerdekaan ini, kecuali jiwa yang merdeka juga menaiki jenjang tangga pendidikan yang tidak terbayangkan akan tercapai bila masih dalam kungkungan penjajahan. Lahir dari keluarga istilah sekarang hidup di bawah garis kemiskinan selalu dirundung kekurangan, suratan tangan menggariskan walau tidak berkesem­patan menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar sekalipun berkat kemerdekaan rakhmat Ilahi itu, terbuka peluang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum yang menjadi idam-idaman setiap orang. Siapakah yang tidak merasa bangga disamping berbahagia disebut mahasiswa Universitas Indonesia yang sampai sekarang tetap jadi favorit para pemuda ? Konon pula dikala itu walaupun belum naik di tingkat disebut sarjana, baru lulus tingkat pertama (propadeuse) sudah banyak gadis melirik dalam hatinya jelas terbaca, bila si abang datang bertandang ! Sungguh nikmat rasanya walaupun belum jadi sarjana.

Tidak salah karenanya diantara rekan ada yang»bercanda : "Bismar, ngapain lhu giat-giat belajar, masa mahasiswa dengan segala suka dukanya hanya sekali mampir dalam terminal hidup."

Ia benar, walaupun tidak sepenuhnya benar. Saya tahu ia berpuas- puas mengecup hidup kemahasiswaan sampai katanya perlu mencari penga­laman hidup mengadakan riset di Gang Hauber di Mangga Besar sana dan sepulangnya banyak tutur cerita. Mungkin karena ia berbeda latar belakang hidup dari saya, ia dibesarkan di dan dari lingkungan keluarga yang melihat hari esok itu panjang dan cerah, tidak ada yang dikejar apalagi diburu, karena orang tuanya sanggup membayar tinggal di Pegangsaan 17 terkenal pemukiman mahasiswa itu tanpa perlu batas waktu.

Berbeda halnya dengan saya yang melihat kemahasiswaan itu sebagai jembatan mengantar hidup dari terminal yang kelabu, kalau berhasil akan memasuki terminal yang cerah dan cemerlang tentu, berakhirlah hidup di- bawah garis kemiskinan. Alhamdulillah, sekarang telah jadi fakta kenyataan.

Filsafat yang berbeda menjadi penyebab bila si kawan yang tujuh tahun kemudian berhak menyandang gelar idaman Meester in de Rechten, penulis dapat mengebut di bawah jadwal kelaziman. Itulah hikmah yang patut diingat dan dikecap berkat cara belajar yang bebas tetapi bertanggung jawab tidak saja kepada negara, orang tua juga kepada Tuhan.

 

IV. Diantara kenangan yang sungguh terkesan dari guru besar, bukan maha guru - istilah maha biarlah untuk Tuhan — beliau selalu berupaya menempat­kan diri dalam kedudukan setiap mahasiswa yang akan ujian. Ujian ditingkat pertama tidak mengambil sendiri tetapi diwakilkan kepada isteri merangkap asisten Mr. Lim Djokosoetono. Berbuat seperti itu bukan tidak beralasan ada faktor penyebabnya. Mungkinkah karena almarhum sendiri pada saat akan menempuh ujian doktoral dahulu seperti ragu-ragu tidak mempunyai keberanian, akhirnya selesainya studi tertunda-tunda lama kemudian ? Itu cerita dari cerita beredar dikalangan mahasiswa.

Faktor tersebut kata sementara teman menjadikan almarhum sadar sehingga ia berpendapat setepatnya isteri tercinta yang mengambil ujian di tingkat pertama, ia cukup mendengar dan mengawasi dibelakangnya. Kalau benar cerita demikian, sungguh benarlah ia orang besar yang tidak ingin ma­hasiswanya jatuh karena faktor psikologis ragu dan takut menghadapi ujian. Penulispun menikmati kesempatan seperti itu. Tentamen pertama diambil oleh asisten merangkap isteri yang sungguh cantik dan molek sekali, sedang­kan untuk ujian-ujian berikutnya oleh almarhum sendiri.

Adalah menjadi kebiasaan beliau, sepanjang yang dialami tidak sekaligus bertanya untuk dijawab apalagi jawaban itu harus sesuai selera beliau. Beliau selalu mengupayakan dalam hal si calon kehilangan arah menggiringnya kembali menemukan sasaran jawaban. Seperti disebut di atas beliau tidak menginginkan jawaban yang secara harfiah benar, tetapi lebih mengutamakan /mampu memberikan jawaban walaupun secara harfiah ada penyimpangan. Beliau tidak menginginkan jawaban yang dimamah dan dikunyah justru mahasiswa diajar dan dididik mampu dan berkemampuan mandiri. Salah dan melesetkah cara beliau mendidik ilmu seperti itu ? Bagi saya jawabannya, tidak. Bukan banyaknya ilmu yang diwariskan, tetapi kemampuan otak berfikir dan mencari serta menemukan pemecahan permasalahan. Bukankah benar, ilmu hukum yang termasuk disiplin sosial itu hanya dapat di pecahkan bila tahu bagaimana duduk persoalannya ?

Oleh sebab itu sekiranya adalah orang yang sempat bertanya: "Apa-apaan si Bismar itu, ia Sarjana Hukum dan Hakim pula, berani berkata persetan sama kepastian hukum, kalau karena mempertahankan kepastian hukum itu keadilan di korbankan, ia memilih mengorbankan kepastian hukum."

Memang itulah filsafat hukum saya. Hukum hanya sarana, cara untuk mewujudkan tujuan hukum agar tercapai keadilan. Oleh sebab itu sekali lagi kalaulah diperlukan pengorbanan diantara dua kepentingan, antara kepastian hukum dan keadilan, saya korbankan kepastian demi tegaknya hukum dan keadilan yang sekarang ini mutlak dilaksanakan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan tidak ingin, tidak memberkahi, lebih tegas lagi akan mem­persalahkan siapa saja apalagi ia berani menyandang jabatan hakim, yang wakil Tuhan itu, bila kepentingan keadilan di nomor duakan sedang kepen­tingan kepastian hukum diutamakan.

Bilamana masih ada orang, apalagi diantara sarjana Hukum yang belum menerima sikap dan pandangan si Bismar, Sarjana Hukum dan Hakim yang kontroversial itu, memang demikianlah hukum sejarah. Setiap pembaharuan kalau ini dapat disebut pembaharuan, memerlukan proses waktu ada kalanya lama adakalanya cepat. Mungkin waktu itu bukan setahun, bukan pula lima atau sepuluh tahunpun tidak, bahkan baru setelah si pembaharu telah tiada bukan jadi alasan dan penghalang apalagi dari yang menyebut dirinya Sarjana Hukum, melemparkan pola fikiran baru.

Tidak salah dicuplik sabda Rasul Muhammad antara lain : "Tinta se­orang yang berilmu jauh lebih suci dari darah seorang Suhada." Tinta orang yang berilmu lebih suci dari darah seorang Suhada, membuktikan dari orang yang berilmu dituntut mengembangkan ilmunya. Diterima atau bukan jangan jadi halangan.

 

V. Alhamdulillah ! Tuhan Maha Bijaksana, Tuhan Maha Pengatur. Pada saat penulis dalam penempaan menjadi Sarjana Hukum itu, ada dua ahli tempa - yang walaupun bertolak belakang-filsafat hidupnya ialah, Prof. Mr. Djokosoetono, sepanjang pengamatan penulis belum sampai pada peng­hayatan ajaran agama sedalam rekan seprofesi Prof.Mr.Dr. Hazairin yang dalam setiap tutur kata tidak terkecuali dalam kuliahnya selalu tercermin iman dan taqwa yang dalam kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hikmah yang terkandung dari perpaduan dua Guru Besar yang bertolak sisi latar belakang hidupnya satu bersikap sekuler tentang hukum yang lain ber­sikap hukum itu harus berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan membe­kas pada pandangan hidup bagi penulis.

Patut diakui diantara dua pandangan hidup itu yang diajarkan Hazairin-lah yang lebih mewarnai pandangan hukum saya, apalagi dalam memasyara­katkan konsekwensi hukum berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang penerapan konkrit dituangkan dalam pasal 4 ayat (1) Undang- Undang No. 14 tahun 1970.

Patut disadari terjadinya perbedaan pandangan tentang hukum tersebut tidak terlepas dari pengaruh situasi dan kondisi saat-saat kedua Guru Besar itu berkecimpung mengamalkan dan mengembangkan ilmunya.

Almarhum Djokosoetono belum sempat secara mendalam setelah UUD '45 ditetapkan kembali sebagai Undang-Undang Dasar di awali dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, dan lebih konsekwen lagi setelah orde baru mengambil alih kekuasaan, almarhum mengalami peristiwa-peristiwa yang menyebabkan ia seolah-olah dijauhkan dari pandangan dan filsafat hukum yang sungguh-sungguh diyakininya.

Sebaliknya tentang Hazairin ia masih sempat berkecimpung -dan me­ngembangkan filsafat dan keyakinannya tentang pengertian hukum yang berrohkan Tuhan Yang Maha Esa yang ia tarik garis hukumnya, sebagai konsekwensi sila pertama Pancasila,-demikian pula pasal 29 ayat (1) Undang- Undang Dasar 1945 dan pasal 4 ayat (1) Undang-undang No. 14 tahun 1970 sampai beliau wafat bulan Desember tahun 1979.

Catatan tambahan saya, khusus mengenai pengertian dan filsafat hukum ini, kalau konsekwen dan monoloyal kepada asas tunggal Pancasila, tolonglah renungkan makna dan arti alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi, "Atas berkat Rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dinyatakan dengan ini kemerdekaannya.", mengandung makna hanya berdasarkan kuasa Allahlah kemerdekaan ini kita peroleh, miliki dan ada.

Selanjutnya tentang penyebutan sifat Tuhan, baik dalam sila pertama Pancasila, demikian juga irah-irah putusan Hakim berdasar pasal 4 ayat (1) Undang-Undang No. 14 Tahun 1970, juga yang sangat penting dalam mene­tapkan dasar Negara tersebut dalam pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar, sifat Tuhan yang Maha Esa lah yang disuratkan dan bukan Yang Maha Kuasa. Menurut pemahaman dan penafsiran hukum dua sifat Tuhan yang berbeda secara harfiah demikian akan berbeda pengertian dan penerapannya.

Selanjutnya tolong diperhatikan sekedar perbandingan, apa yang ter­kandung di dalam Undang-Undang Dasar 1950 tentang pengertian Tuhan, adakalanya disebut hanya Tuhan bukan Yang Maha Kuasa bukan pula Maha Esa. Dalam alinea Pembukaan Undang-Undang Dasar 1950 itu dicantumkan "Dengan berkat dan rakhmat Tuhan tercapailah tingkatan sejarah yang berbahagia dan luhur", sekali lagi tidak ada Yang Maha Kuasa ataupun Maha Esa.

Di dalam sila pertama Pancasila dicantumkan kalimat, "pengakuan kepada Tuhan Yang Maha Esa" dan tentang dasar Negara faktor Tuhan itu diabaikan sama sekali. Oleh karena itu sungguh sangat asasi perbedaan yang menyangkut keTuhanan antara dua Undang-Undang Dasar itu dan almarhum Hazairin sangat besar peranannya memantapkan pemahaman hukum yang berkeTuhanan Yang Maha Esa di Negara yang berfilsafat Pancasila dan dasarnya baik tentang Negara itu sendiri juga hukum yang diberlakukan haruslah berrohkan ke Tuhanan Yang Maha Esa. Dalam bukunya, Tujuh Serangkai Tentang Hukum telah terlukis hasrat dan keinginannya itu.

Itulah sekedar catatan dua Guru Besar yang sangat berkesan bagi pem­binaan diri baik pribadi demikian pula dalam kedudukan yang disebut il­muwan diberi amanah jabatan Hakim pemberi keadilan.

 

VI. Berhadapan dengan orang tidaklah sama seperti berhadapan dengan barang ataupun binatang, tidak terkecuali manusia yang terhitung jenis hewan itu. Berhadapan dengan benda mati atau barang dimanapun ia ber­ada oleh siapapun ia dilihat, sekiranyapun ada beda tidaklah semajemuk beda penilaian seperti berhadapan sesama manusia.

Berhadapan dengan yang disebut hewan atau binatang tidak termasuk manusia, tidak akan menghadapi masalah, karena tidak dilengkapi ilmu dan iradah. Berilmu dan beriradah (kemauan) adalah ciri khas disebut manusia. Tentang binatang ini sifat dan keinderaannya apa yang tergambar dan ter­pancar dari wajah dan mukanya senang atau bukan, lapar atau belum itulah yang terpendam dalam keinginannya. Berbeda halnya, bila berhadapan de­ngan sesama manusia, diperlukan sifat arif dan bijaksana serta waspada. Kalau tidak akan sering terkecoh, bila hanya melihat dan memperhatikan wajah sebaliknya mengabaikan faktor penentu lainnya.

Secara umum patut diakui, seorang yang jernih, cerah dan menarik wajahnya berupa pancaran hati di dalam. Tidak salah karenanya orang mena­rik kesimpulan tentang penampilan almarhum yang selalu memperhatikan wajah yang bersih adalah pancaran hatinya bersih dan ikhlas. Bukan berarti beliau tidak pernah mengucap kata sindiran tidak, tetapi tidak ada dendam dan tidak ada pula purba sangka yang bukan-bukan.

Sindir-menyindir termasuk kebiasaan almarhum, tetapi hanyalah sekedar memberi penekanan tentang permasalahan. Katakanlah sebagai contoh, ada hal yang sulit ditangkap oleh si mahasiswa keluar umpama perbanding­an : "Kau ini seperti orang Dayak!" Sebutan seperti itu mungkin sekarang tercetus menimbulkan kegoncangan, gangguan tertib keamanan disebut SARA, tetapi pada waktu itu tidak menjadi apa-apa. Hanya sekedar ungkap­an, tidak lebih dan tidak kurang. Tentu patut menjadi pertanyaan, apa sebab begitu mudah timbul gejolak dewasa ini ? Perobahan apa yang terjadi? Kesimpulan saya hal-hal demikian tidak perlu menimbulkan SARA ! Ungkap­an-ungkapan yang dikeluarkan dalam forum terbatas dan tertentu, bersifat ilmiah pula, tidak akan menyakitkan hati, apalagi dianggap merendahkan derajat diri. Bukan tidak jarang dialamatkan kepada golongan lain, sebutlah suku Batak itu masih digolongkan kepada suku purba atau primitif sekarang setaraf, dengan suku asal Negrito di Pilipina dan Aborigin Australia. Bagi penulis ungkapan seperti itu tidak membawa kerendahan diri.

Juga masih ditahun-tahun lima puluhan itu sering dilemparkan kata tentang sifat orang Batak antara lain pemakan orang, disamping pemakan anjing ! Kesemuanya bila tidak diterima secara wajar jelas akan menimbul­kan pertentangan antar suku tetapi itu bukan sikap dewasa. Mungkin yang paling tepat tanpa perlu bertepuk dada sebutlah fakta tentang orang Batak yang patut diakui sampai akhir abad ke 19 masih tergolong suku terbelakang karena baru bersentuhan dengan orang barat sebelum peradabannya, salahkah kalau antara lain disebut makan orang dan bukankah menjadi kenyataan saat ini yang baru mengenal budaya baru itu sekarang sudah setaraf dengan sesama saudara dari suku lain yang sudah berabad-abad disebut beradab dan berke­budayaan tinggi ?

Juga demikian pulalah hendaknya jangan sebutan suku Dayak itu di­anggap menghina atau merendahkan harkat suku itu, tetapi jadikanlah cam­buk dan cemeti untuk mengejar ketinggalan-ketinggalan kalau benar demikian keadaannya. Syukur upaya itu telah terbukti. Sudah cukup banyak contoh baik pejabat tinggi Negara ataupun Wiraswasta dari suku-suku yang disebut terbelakang itu, berhasil dalam karier atau usahawan. Sehingga sebutan- sebutan pernah dialamatkan tidak perlu dijadikan alasan untuk tersinggung menimbulkan pertentangan satu sama lain. Jadikanlah catatan sejarah untuk kemudian saling berlomba mengejar dan menuju kepada tercipta dan terbuhul , kesatuan dan persatuan bangsa dan umat terangkum dalam Lambang Negara Bhineka Tunggal Ika. Hanya dengan kebesaran jiwa dan hati yang terbukalah semua perbedaan dapat kita atasi sehingga terjauh serta terhindarlah kita dari bahaya perpecahan dan pertentangan.

Olok-olok almarhum bukan hanya sebatas itu. Sering beliau berucap hal-hal yang menyinggung Universitas Gajah Mada fokusnya rekan se-profesi Prof .Mr.Dr. Djojodiguno. Apa penyebabnya tidak perlu diungkit-ungkit, memadailah bila dibawa oleh kedua Guru Besar itu masing-masing ke alam kubur. Mudah-mudahan hanya sekedar olok bermaksud baik tidak termasuk dosa di hadapan Tuhan.

Masih terbetik cerita, tentu ini hanya sekali, mahasiswi bercelana ke kuliah, walaupun yang demikian sekarang itu bukan persoalan, tetapi pada saat itu belum dapat menerima yang sesuai nilai budaya bila wanita berpakaian demi­kian, sehingga nyeletuk bertanya, apakah berbusana seperti itu sesuai dengan kepribadian bangsa ? Peringatan tepat pada waktu itu, tetapi akan disebut kolot kalau dikatakan sekarang ini.

Memang hidup manusia cepat berubah, hanya kewajiban kitalah yang patut menapis dan menyaring sejauh manakah nilai-nilai yang datang dari luar itu bersesuaian dengan kepribadian bangsa. Kalau tidak, sekali ia sudah masuk apalagi merasuk sangat sulit untuk memulihkan kepada jalan yang seharusnya.

 

VII. Kenangan indah tidak abadi, ada masa tiba akan ada pula akhirnya da­lam hal ini hubungan antar guru yang mengajar dan anak didik yang diajar. Penutup hubungan antar guru dan murid berakhir pada saat wisuda istilah sekarang yang dahulu tidak ada. Selepas itu resmi si Mahasiswa diperkenankan menyandang gelar Meester in de Rechten. Bagi orang yang tidak beradat mungkin ia berkata dalam rangka melepaskan uneg-uneg sakit hati bila itu ada, "Sekarang mau apa, Mr. Djokosoetono ? Kita sama-sama Mr." Secara formal benar dan boleh ia berucap demikian. Tetapi yang formal itu bila secara eksak di terapkan bukan mustahil dapat merusak dan melanggar nilai budaya disebut kepribadian. Hormat kepada guru mutlak dipelihara apapun kesan yang ditinggalkan. Tidak ada guru yang berhati jahat kepada murid. Hormat kepada guru wajib hukumnya, bahkan ada yang berkata lebih tinggi hormat kepada guru dari hormat kepada kedua orang tua. Tentang ini tidak perlu di perdebatkan. Hormat kedua-duanya, titik dan selesai!

Sungguh terkesan waktu dan ketika, saat-saat pengumuman hasil ujian, menentukan boleh tidaknya gelar Meester in de Rechten di sandang. Berpakaian rapi lain dari biasanya tidak pakaian lengkap tidak pula pakaian hitam, perlambang resminya seorang di sarjanakah sekarang, cukup sederhana kemeja berlilit dasi. Dapat dibayangkan bagaimana mereka yang sudah men­jalin kasih dan cinta bersama si cewek hadir walaupun tidak dibenarkan ikut serta mendengar hasil putusan rapat dewan guru besar, cukuplah menunggu dibalik pintu dengan hati yang gedebak-gedebuk bertanya, adakah si abang lulus Sarjana ? Sungguh iri rasanya, terutama bagi mereka yang tidak ada sanak, tidak ada pula keluarga. Inipun jangan disesali - jalur hidup manusia berbeda dan berlainan menurut, ketentuan Ilahi.

Panggilan masuk kemudian dipersilahkan duduk dihadapan almarhum yang jadi Dekan Fakultas Hukum, membacakan hasil musyawarah dewan guru besar dengan ucapan yang khidmat, beliau bertitah: "Saudara atas hasil kesepakatan dewan guru besar dinyatakan lulus dan berhak menempuh ujian doktor dalam ilmu hukum dst       " Indah sekali peristiwa dan kenangan itu. Sebaliknya bagi yang belum beruntung dinyatakan lulus, suara itu tetap mem­beri hibur dan bujuk agar tidak berputus asa bahwa, adalah hukum peluang­an tidak selalu sekali dayung tercapai kemenangan.

Sungguh, dari wajah beliau selalu tercermin keikut-sertaan bersama orang lain. Ia ikut berbahagia bila orang lain patut berbahagia, sebaliknya beliau ikut berduka cita bila mahasiswa ditimpa nasib yang belum sesuai harapan. Sekarang membayang kembali peristiwa demi peristiwa, walaupun sudah 28 tahun sudah berlalu semenjak tanggal 1 September 1952 tercatat sebagai ma­hasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat dan berakhir 12 November 1956. Empat tahun dua bulan, tepatnya 50 bulan berada di kampus Salemba 4 itu, sungguh cepat berlalu. Tidak salah kalau anak saya yang dengan rakhmat Tuhan dua orang menjadi mahasiswa fakultas hukum di almamater yang sama minta waktu dan berkata : "Ayah, biarlah saya lebih lama menikmati kampus ini," dapat saya fahami memang, sungguh indah hidup di kampus kecuali bergaul dengan guru besar juga sesama mahasiswa di-bumbui aneka ragam duka dan suka.

Saya berkata : "Baik nak, engkau masih muda juga keadaanmu bukan seperti

 keadaan ayahmu dahulu yang harus memburu waktu untuk dapat membaha­giakan nenekmu mendengar anaknya lulus Sarjana Hukum. Hanya pesan ayah, jangan lupa nak. Banyak adik-adikmu yang kau tak sempat kenal nama menunggu tempatmu."

VIII. Di dalam merenung peristiwa itu timbul pertanyaan, adakah yang dapat saya perbuat membalas budi baik almarhum itu ? Imbalan materi ia tidak inginkan juga tidak dimungkinkan. Imbalan kehormatan beliau tidak harap­kan, karena kehormatan apa lagi yang lebih mulia bila pada saat wafat ia di­makamkan dengan segala upacara kebesaran di makan pahlawan ? Hati tidak puas, lalu bertanya tidakkah ada jalan lain yang menghubungkan antar seorang yang meninggal dengan orang yang ditinggal ? Kembali jiwa saya ingat ajaran guru besar lainnya Hazairin, yaitu iman dan Islam memberi­kan jawaban, bahwa akan terputuslah hubungan seorang setelah ia mati kecuali tentang tiga hal yaitu :

1. Do'a anak yang saleh; 2. Amal jariah dan 3. Ilmu yang diajarkan. Tentang butir 1 dan 2 tidak menjadi masalah, karena menyangkut pribadi almarhum.. Tetapi mengenai butir 3 patut direnungkan. Kalau benar ilmu yang diajarkan dapat memberi safa'at, bukankah almarhum yang membekali muridnya ilmu dan berkat ilmu itulah khusus bagi saya disamping berhak menduduki jabatan-jabatan, inipun bukan sembarang jabatan dalam pening­katan karier seorang sudah sampai dipuncak mampu berbuat kebajikan bagi Negara dan Bangsa. Kalau demikian mengapa saya atau siapapun yang me­miliki ilmu, amanah Tuhan tidak secara sadar dan berniat mengamalkan ilmu perolehan dari almarhum sebagai amal ibadah ? Bukankah berbuat seperti itu tanpa diminta almarhum, tanpa pula ada kerugian apa-apa bagi sipemberi bahkan akan. menjadi kaya, karena menanam modal disisi Tuhan, mampu memberi sesuatu kepada orang lain ? Maha Pengasih Tuhan, Maha Pemurah Tuhan dengan segalanya, hanya sering orang tidak mampu membaca dan memahaminya. Jadi Tuhan memberi imbalan pahala yang tidak berkesudahan akan dapat dinikmati almarhum, kalau si pengamal menyadari kemurahan Tuhan itu.

Kesadaran seperti itu, tidak akan ada kecuali telah tertanam benih iman dalam diri dan caranya sederhana dan gampang sekali. Tentang benih iman ini sekali lagi, sungguh berbahagialah saya seperti disebut di atas fakultas hukum memiliki guru besar Hazairin. Guru besar inilah yang mengisi dada beriman kepada Tuhan.

Demikianlah catatan budi si gaek Hazairin ini, dan untuknya saya per­nah menyumbangkan kenangan berupa tulisan :

"Prof.Mr.Dr. Hazairin, seorang Mujahidin Penegak Hukum Berdasarkan keTuhanan Yang Maha Esa," Benar ia seorang Mujahidin pembaharu ajaran Islam.

Sungguh segala puja dan puji terpanjat kepada Allah S.W.T. Hanya berda­sarkan ketentuanNyalah berpadu dua guru besar khusus, bagi saya kecuali tempat kembali juga sumber mencari pemecahan setiap persoalan hukum. Almarhum Prof.Mr.Djokosoetono yang berkata, kalau saya tidak salah men­catat, dalam hal ada perbuatan Pemerintah yang menguntungkan warganya, akan tetapi terjadi kesalahan aparat Pemerintah, si warga seyogianya tidak boleh dirugikan, kecuali ada klausule menetapkan lain.

Beliau itu pula yang memberi semangat dalam rangka penegakan hukum tanpa pilih bulu, walaupun pada saat itu belum berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa baru demi keadilan semata dalam hal ada yang disebut onrecht- matige overheidsdaad, ada pula tuntutan si warga terhadap Pemerintahnya, kalau berdasar hukum kabulkanlah. Ajaran-ajaran seperti itulah yang men­jiwai yang memberi semangat pembaharuan, menerapkan hukum tanpa pilih bulu juga yang sangat penting ber-roh-kan Tuhan Yang Maha Esa, karena yakin satu saat kelak, si Hakim itupun akan diadili oleh Hakim Yang Maha Adil di Yaumil Mahsyar.

 

IX. Sebagai penutup tidaklah salah disampaikan agar lebih meresap sikap dan peran manusia Pancasila yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, bila ia melakukan sesuatu, apalagi yang menyangkut ilmu, dikutip sabda Rasulullah :

"Barang siapa mempelajari suatu cuplikan ilmu yang bermanfaat di akhirat dan didunianya, Allah s.w.t. melimpahkan kebaikan baginya, sebagai amal yang sepenuhnya diterima Allah, seimbang dengan kebaikan 7.000 tahun puasa pada siang harinya dan shalat pada malam harinya."

Sebutlah diantara pembaca ada yang tidak beriman kepada sabda Rasul Allah itu, terimalah sebagai kata mutiara yang di dalamnya terkandung hikmah, bagaimana arti mempelajari ilmu di mata Tuhan. Kalau mempelajari­nya sudah demikian besar imbalan pahalanya, tentu imbalan kepada si pem­berinya akan lebih berganda lagi.

Tidak berkelebihan di sampaikan selanjutnya sabda lain sehubungan dengan penyampaian ilmu itu :

"Siapa-siapa yang dikaruniai ilmu pengetahuan yang banyak, te­tapi tidak mendapatkan hidayah berada amat jauh dari Allah."

Ini tentu peringatan bagi si pemilik ilmu, alhamdulillah apa yang diperbuat almarhum Prof Mr. Djokosoetono, guru besar saya serta guru besar lainnya"Guruku Prof. Mr. Djokosoetono ! pada saat-saat melaksanakan tugas pengabdianku seolah-olah saya mendengar pesan bisikanmu: "Bismar muridku! sungguh berbahagia saya, walaupun tidak pernah saya ajarkan kepada engkau atau siapapun yang pernah menjadi muridku, peran iman dan taqwa kepada Tuhan dalam pengamalan ilmu, sehingga dapat men­jadi ibadah, tetapi engkau telah menemukan dan mengamalkan pemberian saya yang disebut ilmu itu.

"Bismar muridku! Betapa tidak saya berbahagia walaupun tidak pernah terniat dalam hati saya mengharap imbalan jasa dari muridku, hanya pada saat itu yang saya rindukan jadilah para muridku itu pengabdi kepada Negara, Bangsa yang saya sangat cintai, engkau ikhlaskan kepada saya pahala ilmu itu.

"Bismar muridku! Betapa tidak saya lebih berbahagia lagi, engkau mengembangkan ilmu, bukan hanya sebagai ilmu demi ilmu, tetapi ilmu se­bagai ibadah, dan keyakinan seperti itu tidak pernah saya peroleh dari ajaran guru saya, karena pada saat itu, sungguh ilmu hanya sekedar ilmu, dan tidak dibenarkan di sangkut-pautkan dengan iman kepada Tuhan.

"Bismar muridku! Lanjutkanlah amal solehmu menyebar luaskan ilmu yang engkau peroleh dari gurumu siapapun, karena Tuhan menjanjikan im­balan pahala yang tidak berkesudahan kepada si pemberinya termasuk saya yang sekarang di tempat peristirahatan."

XI. Itulah dialog batin antara seorang murid dengan gurunya demikian pula antara guru dengan muridnya mungkin oleh sementara orang menanggapi tidak masuk akal dan si Bismar mengada-ngada Saya hormati tanggapan apa­pun yang disampaikan, tetapi berilah saya peluang berbuat kebajikan kepada orang, orang yang tanpa pamrih berbuat baik kepada saya terutama.

Mungkin pula ada sementara orang yang berkesimpulan, mengapa engkau berani mengadakan sesuatu yang orang lain tidak mau atau tidak berani berbuat seperti itu, saya dengan segala kerendahan hati menyampaikan dialog Nabi Muhammad/junjungan saya yang setiap saat dan ketika ingin melaksanakan dan mengikuti sunnahnya dengan sahabat yakni:

Pertanyaan : "Siapakah orang asing itu Rasulullah."

Jawab : "Orang yang menghidupkan Sunnahku ?"

Pertanyaan : "Siapakah yang menghidupkan Sunnahmuitu ?"

Jawab : "Orang yang berani mengadakan pembaharuan, yang berani mengambil sikap tidak perduli pendapat kebiasa­an orang lain".

Marilah kita camkan dialog Nabi tersebut, yang singkatnya jadilah pembaharu apalagi di bidang ilmu yang menyangkut kehidupan masyarakat

dengan tetap berpedoman pada rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, yang men­jadi dasar Negara, dasar pelaksana hukum dan keadilan, Sila pertama Panca­sila dan yang atas berkat dan rakhmatNya Kemerdekaan ini kita nikmati.

Damailah engkau guruku Djokosoetono di alam barzakh, saya berjanji menjadi penerus ajaranmu.

Semoga Tuhan mengampuni segala dosa dan menerima amal keba­jikanmu. Amin Ya Robbal Allamin.!

 

* Tulisan ini dikutip dari buku Guru Pinandita : Sumbangsih untuk Prof. Djokosoetono, S.H., Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1984.

** Almarhum adalah mantan Hakim Agung.

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh