Jakarta Jaman Dulu

Jakarta Jaman Dulu (Jadul)
(Kenangan ini ditulis sambil membaca buku “Keadaan Jakarta Tempo Doeloe” dan “Peranakan Tionghoa di Nusantara”)

oleh Mardjono Reksodiputro

Buku pertama adalah karangan Tio Tek Hong (TTH), sebuah kenangan 1882 – 1959 dan buku kedua adalah karangan Iwan Santosa (IS) alias Iwan Ong. Sebenarnya masih ada buku lain yaitu “Jakarta 1950-an-Kenangan Semasa Remaja”,karangan Firman Lubis (FL-dokter lulusan UI).Tetapi saya ambil bahan dari kedua buku  pertama, sebagai kenangan, karena mengingat sejarah Jakarta sekarang, yang untuk pertama kali mempunyai seorang pimpinan DKI (WaGub) yang merupakan WNI Keturunan/Peranakan Tionghoa (ada perbedaan antara “Peranakan Tionghoa” dan “Tionghoa Totok”), yaitu Basuki Tjahja Purnama, ex- Bupati Belitung Timur.

Mengenal Jakarta jaman dulu, penting agar kita lebih faham suasana waktu pedirian RS (1909 –Rechtsschool) atas permintaan Bupati Serang P.A.Achmad Djajadiningrat dan kemudian RH (1924 –Rechtshogeschool) yang dibuka oleh Gubernur Jenderal D.Fockt. Dan kemudian menjadi Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan di Universitas Indonesia (FH&IPK-UI tahun 1950). Prof Djokosoetono, dekan pertama, sendiri lulus tahun 1938 dan menjadi Asisten Prof Logemann tahun 1938 – 1942.

Saya tinggal di Jakarta sejak tentara Jepang mulai masuk (Maret 1942 – umur 5 tahun) dan masuk FHUI tahun 1955 (umur 18 tahun).Sekarang (20013) UI Salemba 4 (Kantor Pusat) sudah amat sangat berubah sekali – tidak terbayangkan keadaan tahun 1955 sebagai “bekas pusat pabrik-tjandu” dan “bekas Universiteit van Indonesie”.Candu atau “madat” dijual resmi di Indonesia oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk keperluan orang-orang Tionghoa, menurut sejarahnya, masih ada sampai awal tahun 1920-an (di daerah “Kota” – nama untuk daerah Glodok sekarang) kabarnya sampai masuknya tentara Jepang masih ada tempat-tempat penghisapan candu (ingat 1914 -1918 adalah Perang Dunia Pertama).

Di depan Kampus Salemba, di jalan rayanya tahun 1950-an masih ada “trem” (asli istilahnya “tram” dan  “tramway”- seperti sekarang masih ada di San Francisco) – yaitu trem-listrik dan tentu saja becak. Menurut TTH, dulu asalnya adalah trem yang ditarik kuda dan sudah mulai tahun 1869. Pada waktu saya mahasiswa kami sering naik sepeda ke Pasar Baru untuk makan mie, dan di sana (ujung jalan Pasar Baru,sebelah kiri) ada Pasar Atoom. Menurut TTH Pasar Atoom ini adalah bekas kandang-kandang kuda untuk Trem. Perjalanan Trem tahun 1950-an adalah mulai  dari Pasar Ikan – ke Kota/Glodok - terus menyusur Jalan Hayam Wuruk (dahulu Molenvliet) ke Harmoni – liwat Jalan Nusantara ke Gedung Kesenian – Pasar Baru – liwat Jalan Gunung Sari – ke Senen – Kramat – Salemba – sampai berakhir di Jatinegara (dulu namanya Meester Cornelis).

TTH juga berceritera tentang banyaknya orang Tionghoa minta untuk geliijkgesteld (dipersamakan dengan orang Eropa), a.l karena pada awal tahun 1900-an itu untuk bepergian dari satu daerah ke daerah lain perlu pakai “pas-jalan”. Untuk orang Eropa dan “yang dipersamakan”, jauh lebih mudah dapat pas-jalan dari pada penduduk lainnya. Mereka yang telah dipersamakan sering juga ganti nama, dengan nama Eropa, tetapi waktu tentara Jepang masuk Jakarta, mereka segera tukar kembali ke nama Tionghoa lagi, karena takut ditahan (di “interneer” = ditahan sebagai warga negara musuh dalam kamp-kamp).

Daerah yang dianggap tempat tinggal utama dan juga tempat berdagang masyarakat Tionghoa Peranakan dikenal dengan nama “Pecinan” (China Town). Untuk Jakarta daerah itu adalah Glodok-Pancoran (sekarang ada juga di Kelapa Gading !).Menurut IS, maka istilah Peranakan dahulu pernah dipakai untuk masyarakat Tionghoa yang masuk Islam dan memotong “taucang”-nya (rambut-kepang orang laki-laki).Ternyata banyak juga orang Tionghoa yang masuk Islam dan mendirikan masjid sendiri.Beberapa masjid yang didirikan mereka bersama masyarakat setempat adalah Masjid Annawier (Pekojan), Masjid Jami Al Ansor (Jl Pengukiran), Masjid Kebon Jeruk dan Masjid Lautze.

Daerah pecinan terkenal juga sebagai daerah “perdagangan dan keuangan” dan di Glodok terkenal daerah Pinangsia (menurut IS berasal dari kata “financieren”) dan Bandengan (asal kata “Bachergracht”) serta Pasar Pagi, Asemka dan Petak Sembilan.Tetapi di sini juga sering terdapat restoran masakan Khas Cina dan toko obat herbal Cina.

Pada periode tahun 1950-an,maka daerah pecinan ini merupaka salah satu tempat hiburan mahasiswa UI. Dari Salemba cukup naik “oplet” sampai ke kota untuk ikut merayakan “Cap Go Meh” dengan Barongsai dan Liong-nya serta mendengar “lenong”, musik “gambang kromong” dan “kroncong”, serta menonton “wayang potehi”.

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh