Guruku

Guruku
oleh Samsuridjal Djauzi
Guru Besar FKUI

Pada bulan Mei 2010 saya mendapat surat keputusan pensiun. Meski saya sempat bertugas di Kalimantan Timur sebagai dokter selama lima tahun (1976 sampai 1981), namun sebagian besar kehidupan saya dihabiskan di Jalan Salemba dan Jalan Diponegoro (Fakultas Kedokteran dan RS Ciptomangunkusumo).

Saya mencoba merenungkan selama pendidikan dokter 1963 sampai 1969 apa yang berkesan bagi diri saya yang banyak mempengaruhi kehidupan saya. Ada laboratorium yang cukup canggih, perpustakaan yang lengkap, penyakit pasien yang beraneka ragam.

Semua tentu membentuk diri saya menjadi seorang dokter.

Namun sekarang saya makin merasakan bahwa sebenarnya pengaruh terbesar yang saya rasakan adalah pengaruh guru-guru saya. Guru-guru saya telah mendidik dan mencontohkan bagaimana menjadi seorang dokter, menghormati pasien, melakukan analisa ilmiah, serta mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan pasien.

Ketika saya mulai kuliah di FKUI saya mengetahui bahwa dekan FKUI adalah Prof. Margono Sukarjo. Beliau berperawakan tegap, seorang dokter ahli bedah. Bicaranya jelas jika memberi kuliah.

Kami para mahasiswa menikmati kuliahnya yang diselingi beberapa pengalaman pribadi beliau sebagai seorang ahli bedah. Menurut kakak kelas saya, beliau adalah seorang yang amat memperhatikan tugas, dan hidup beliau amat sederhana.
Konon beliau pernah diajak oleh sebuah rumah sakit swasta untuk berpraktik di rumah sakit tersebut, namun beliau menolak karena khawatir tugas-tugas beliau sebagai Dekan dan pendidik akan terganggu.

Meski istri beliau juga seorang dokter spesialis kulit, namun penghasilan beliau sekeluarga tak seberapa. Beliau hidup dengan sederhana.

Waktu itu sebagai mahasiswa saya belum dapat membayangkan godaan untuk berpraktik di rumah sakit swasta.

Dewasa ini sebagian besar dokter disamping bekerja pada pemerintah juga bekerja di rumah sakit swasta. Semula bekerja di rumah sakit swasta hanya sebagai sambilan namun akhirnya banyak juga yang kemudian lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit swasta daripada di FKUI/RSCM.

Baru sekarang saya merasakan bahwa beliau merupakan guru saya dengan kepribadian yang kokoh tak mudah tergiur oleh penghasilan tambahan.

(Dikutip dari Riris K.Toha-Sarumpaet dkk,(Editor),2012,Membangun Di Atas Puing Integritas. Belajar dari Universitas Indonesia - Penerbit:Gerakan UI Bersih dan Yayasan Pustaka Obor)

 

 

 

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh