Universitas Indonesia : Almamater yang saya banggakan !!

Universitas Indonesia : Almamater yang saya banggakan !!
oleh Mely G. Tan
Alumnus Senior UI

Bagi saya Prof Tjan Tjoe Som adalah mentor yang mengajarkan apa itu ilmu dan keilmuwanan serta kejujuran sebagai ilmuwan, dengan teladannya sebagai ilmuwan sejati. Dasar-dasar sebagai ilmuwan terbentuk ketika saya mengikuti kuliahnya dan kemudian dalam percakapan-percakapan pribadi di rumahnya sesudah saya kembali dari Cornell. Prof Tjan jugalah yang mengusulkan saya kepada Prof G. William Skinner dari Cornell University, yang datang ke di Indonesia untuk melakukan penelitian  tentang etnik Tionghoa di Indonesia. Atas usul itu, saya diterima Prof Skinner sebagai salah satu asisten penelitinya untuk melakukan penelitian di kota Sukabumi. Berhasilnya penelitian itu memberikan saya kesempatan untuk meneruskan studi saya  dalam bidang sosiologi di Cornell University, Ithaca, New York.


Uraian saya mengenai permasalahan saya di Universitas Indonesia pada 1950-an bertujuan untuk memperlihatkan bahwa yang penting di sebuah universitas sebagai suatu lembaga pendidikan adalah proses peralihan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dari pengajar ke yang diajari.
Hakikat suatu lembaga pendidikan adalah proses peralihan pengetahuan, yang hanya bisa terjadi dengan baik jika ada komunikasi yang baik dan jujur antara "guru" dan "murid".
Hal ini ditentukan oleh suasana yang kondusif, yang berarti suasana di sekitar komunikasi itu yang demokratis, transparan, jujur, cerdas, dan benar-benar bertujuan untuk meningkatkan dan membentuk tidak hanya pengetahuan, tetapi juga karakter si "murid". Indikator keberhasilan seorang "guru" adalah berapa jumlah orang yang mengaku diri sebagai "murid"nya.


Suasana dan keadaan di sekitar komunikasi untuk peralihan pengetahuan itu tidak memerlukan gedung mewah atau suasana kampus yang asri, walaupun hal ini tentu menyenangkan kalau ada. Perlu diingat bahwa, pada 1950-an, belum ada yang dinamakan gedung-gedung, apalagi kampus UI. Sinologi sama sekali tidak mempunyai gedung, tetapi meminjam beberapa ruang kelas dari sebuah sekolah di Jalan Diponegoro no. 80, diseberang RSCM sekarang (gedung itu masih dapat disaksikan disana, dan sekolah masih berlangsung, yaitu SMA PSKD I).


Kalau saya mengenang keadaan itu, sebenarnya keadaan fisiknya barangkali lebih buruk daripada "universitas ruko" sekarang. Tapi yang menentukan adalah kualitas para profesor dan dosennya, serta substansi pelajaran yang dialihkan dari "guru" ke "murid". Itulah yang membanggakan saya sebagai mahasiswi Universitas Indonesia waktu itu.

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh