In Memoriam Soediman Kartohadiprodjo

Komentar RRI, 27 Januari 1970: "In Memoriam Soediman Kartohadiprodjo"

Seorang sarjana hukum yang rendah hati, Prof. Mr. Soediman Kartohadiprodjo, hari Senin telah meninggalkan kita di Bandung karena serangan jantung. Jenazahnya telah diistirahatkan hari Selasa sore.

Bagi teman-temannya dan murid-muridnya serta bekas murid­ muridnya, meninggalnya Pak Soediman sangat berkesan dengan dukacita yang mendalam, karena datangnya yang tiba-tiba.

Sepanjang hidupnya, baik pada waktu menjadi pengacara, menjadi guru besar dalam mata pelajaran ilmu hukum, maupun pada waktu menjadi Sekretaris Umum Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, telah diabdikan dengan usaha-usaha yang tekun untuk mencapai cita-cita negara hukum, tetapi ia telah menutup mata pada saat Cita-cita itu belum tercapai.

Pak Soediman, dengan demikian, merupakan salah seorang di antara sarjana-sarjana dan pencinta-pencinta hukum yang dikuasai oleh suatu idealisme tentang pembentukan negara hukum, tanpa melihat dalam sepanjang hidupnya terlaksananya idealismenya itu ke dalam kenyataan. Sejarah peradaban memang kita ketahui penuh dengan sarjana-sarjana hukum, namun tidak berarti bahwa mereka telah menyerah. Tidak, sebab kematian tidak berarti penyerahan.

Pak Soedirnan adalah seorang sarjana hukum yang berasal dari generasi sebelum perang, generasi yang berjuang tangguh melawan hegemoni kolonial, generasi yang dipupuk dengan Sumpah Pemuda Indonesia dalam tahun 1928, dan yang bergelora dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia dalam tahun 1945. Oleh karena itu, dalam tahun-tahun 60-a, ia acapkali menganjurkan kepada generasi muda menjadi suatu generasi yang berani. Demikianlah Pak Soediman acapkali berkata bahwa sekiranya generasi muda dari zaman sebelum perang bukan suatu generasi yang berani maka kita sekarang belum merdeka. Sebagai penganjur generasi muda yang berani, Pak Soediman tentu merasa gembira pada masa akhir hidupnya . menyaksikan sendiri kebangkitan Angkatan 66 sebagai generasi muda. Sampai hayat dilepas badan, semangat Pak Soediman tetap semangat muda, karenanya ia dicintai oleh generasi muda.

Sebagai seorang sarjana hukum yang bersemangat muda maka momen yang dapat kita rasakan ialah momen ketika Pak Soediman mengucapkan pidato pada penerimaan pengangkatan sebagai guru besar pada Universitas Indonesia pada tanggal 17 Januari 1953, dimana dengan gigih ia melanjutkan perjuangan melawan kolonialisme dalarn front ilmiah dengan mengemukakan strategi negara hukum. Kepada para mahasiswanya, Pak Soediman berkata: ''Saudara-saudara, marilah kita bekerja bersama dengan penuh tenaga yang ada pada kita, dan berusaha menebus hutang kita kepada kawan-kawan kita yang gugur dalam memperjuangkan cita-cita mencapai suatu negara yang merdeka dan berdaulat, dan saya kira suatu negara hukum; Saudara-saudara, tanah air memanggil dan menunggu."

Tetapi kini Pak Soediman sudah pergi untuk selama-lamanya. Maka teman-teman dan murid-muridnya perlu melanjutkan amanatnya bekerja lebih keras untuk melaksanakan cita-cita membangun negara hukum.,, 2) . Seorang sarjana hukum yang masih muda, yakni Arief Sidharta, SH, adalah salah satu di antara sekian banyak mahasiswa yang banyak mendapat gemblengan dari Soediman. Dia banyak mengenal Soediman sebagai guru yang melakukan tugas kewajibannya sehari hari sebagai pengajar di Fakultas Hukum Universitas Parahyangan. Bekas muridnya ini adalah seorang di antara sekian banyak mahasiswa Soediman. yang ikut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Profesor Soediman, gurunya dan juga bapaknya. Sebagai seorang murid yang banyak mengenal gurunya, dia mempunyai kesan tersendiri atas pribadi Soediman, yang telah berbuat banyak untuk dirinya dan kawan seangkatannya. Kesan itu dituturkannya melalui Mingguan Mahasiswa Indonesia sebagai berikut: ''Telah pergi dari tengah-tengah kita satu pribadi yang untuk masa sekarang ini termasuk dalam kelompok pribadi-pribadi yang tidak banyak jumlahnya. Keseluruhan hidupnya sepanjang 62 tahun mencerminkan ciri-ciri watak yang sederhana, jujur, dan setia. Dan bagi yang mengenalnya, kesederhanaan, kejujuran, dan kesetiaan ini terasa setiap kali berhadapan dengannya. Sesungguhnyalah bagi kami, beliau adalah prototipe dari seorang sarjana atau intelektual yang memiliki keutuhan pribadi (personal integrity) yang selalu terpelihara dalam keadaan apa pun juga. Sedang kehidupannya bercirikan pada semangat nasionalisme dan perikemanusiaan.

Nasionalisme sudah menyala dengan kuat sejak masa sekolahnya pada HBS di Semarang yang diselesaikannya pada tahun 1927. Beliau adalah aktivis pada Tri Koro Dharmo, Jong Java, dan Indonesia Muda, dan turut serta dalam Kongres Pemuda tahun 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda. Semangat kebangsaannya tidak pernah padam, baik ketika ia masih menjadi Meester in de rechten pada tahun 1936 di Rechtshogeschool, Jakarta, maupun ketika menjadi hakim di tahun­ tahun sebelum proklamasi. Semangat itu tidak dibiarkannya hanya berkobar dalam dirinya, tetapi juga ditiupkan kepada angkatan muda yang menjadi asuhannya. Demikian pula di masa sesudahnya, yaitu ketika menjadi petugas Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan terakhir sebagai pengacara. Beliau mencoba menceburkan diri dalam dunia perguruan tinggi dan ilmu pengetahuan tahun 1946 yaitu dengan didirikannya Perguruan Tinggi Hukum dan Sastra di Jakarta oleh Kementrian PPK.

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh