Prof. Soediman Kartohadiprodjo, Guruku

Prof. Soediman Kartohadiprodjo, Guruku

Oleh : Priyatna Abdurrasjid

 

 

Bahwa Pak Soediman itu guruku, tidak bisa dibantah. Ucapan ini juga sering disampaikan oleh Mochtar Kusumaatmadja. Terutama guru di bidang Hukum yang sejak awal aku geluti. Prof. Soediman bukan saja guruku, akan tetapi dapat diketengahkan sejumlah nama mantan muridnya, seperti Prof. Mochtar Kusumaatmadja, (mantan Menteri Kehakiman, mantan Menlu, ahli Hukum Laut, Pencetus Wawasan Nusantara melalui Deklarasi Djuanda ta­hun 1958) Sutadi Sukarya, Salamun AT (DirJen Pajak), Widoyati, Purbowati Halimun-Sudomo, Martinah (Hakim-Hakim Agung), dan banyak lain-lain­ nya lagi yang terlepas dari ingatanku.

Bagaimana aku berani mengatakan bahwa aku ini mantan muridnya? Khusus aku batasi peninjauan ini pada masa-masa sulit, yakni antara tahun 1945 - 1948 - permulaan tahun 1950. Kita semua mengalami masa perjoangan yang penuh penderitaan, kesulitan, ancaman, sejak Dwi Tunggal Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 mem­proklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Seluruh lapisan masyarakat Indone­sia berbondong-bondong membentuk diri dalam kelompok untuk memper­tahankan kemerdekaan tanpa senjata, kecuali bambu runcing. Baru kemudian, kita berhasil merebut senjata dari pasukan Inggris, yang terdiri dari serdadu Gurkha, Pakistan, India, dan lain-lain. Juga dari tentara Belanda, KNIL, KL, dan lain-lain.

Betapa beratnya, mungkin kini tidak bisa dibay­angkan. Kesemuanya itu dipikul rakyat pejoang Indonesia dengan penuh pengorbanan tanpa keluh kesah apapun. Para pemuda yang pada tahun 1945 masih duduk di bangku sekolah berbondong-bondong secara sukarela turut serta melakukan perlawanan terhadap pasukan-pasukan Inggris dan Belan­da yang bersenjata lengkap sisa PD II yang berusaha menjajah Indonesia kembali. Perlawanan-perlawanan bersenjata ini terjadi di daerah pendudu­kan, secara frontal, gerilya maupun kegiatan intelijen. Di samping itu banyak pula kelompok-.kelompok 'di daerah pendudukan, seperti di Jakarta yang melakukan boycott dan bentuk-bentuk perlawanan lainnya.

Tetapi ada pula kelompok-kelompok koperator (yang bersedia bekerja sama dengan pihak musuh). Kelompok non-koperator dengan berani melakukan perlawanan se­ cara terbuka maupun diam-diam, misalnya melaksanakan kegiatan pen­didikan dalam forum perjoangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan berbagai cara, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Pen­didikan ala RI. ini dilakukan dari tingkat rendah (SD), menengah sampai Perguruan Tinggi. Pihak musuh melakukan usaha-usaha pendidikan yang sejalan, dengan perbedaan adanya iming-iming, misalnya bebas biaya, buku­ buku gratis, uang saku, beasiswa yang besar dan kemudahan-kemudahan/fasilitas-fasilitas lainnya seperti dikirim belajar ke negeri Belanda.

Sebalikn­ya terhadap bidang pendidikan yang digeluti kelompok RI non-koperatif tanpa fasilitas pendidikan apapun, bahkan ruang belajarpun tidak ada. Em­peran bangunan, rumah-rumah di kampung jadilah. Alat-alat musuh se­perti tentara Belanda, polisi, NEFIS, PID (intel) tidak henti-hentinya melaku­kan razia, teror, penangkapan, penyiksaan terhadap para siswa-siswa tetapi terutama kepada para gurunya.

Dan keadaan ini dialami oleh Prof. Soedi­man yang tanpa menyerah melakukan kegiatan memberi kuliah-kuliah. Kegiatan mendidik terus dilakukannya secara gigih, tanpa menghiraukan ancaman-ancaman/teror pihak musuh, demi melaksanakan keyakinannya mendidik murid-muridnya, demi masa depan negara kesatuan RI. Ibukota Jakarta pada tahun 1945an sebagian besar sudah dikuasai Belanda dengan bantuan pasukan Inggris. Walaupun demikian secara bergerilya disana-sini berlangsung kelompok-pendidikan mulai dari SD, SMP, SMT, dan juga yang kemudian dilakukan oleh Prof. Soediman di Perguruan Tinggi Hukum (PTH) sekitar tahun 1948.

Pengenalan saya pertama dengan Perguruan Tinggi ini sewaktu sebagai Anggota Batalion A3W di Soreang-Bandung beberapa kali ditugaskan meneliti keadaan Ibukota Jakarta yang secara total telah dikuasai . pasukan Inggris-Belanda. Secara kebetulan saya bertemu dengan Mochtar Kusumaatmadja yang tahun 1948 sedang bersekolah di SMT Bachtiar di Salemba Raya. Penjelasan Mochtar yang mengucap bila selesai akan meneruskan kuliah di PTH yang diketuai Prof. Soediman Kartohadiprodjo; menyaingi Rechts Hoge School Universiteit van Indonesie yang dikelola oleh Belanda dengan memberi berbagai kemudahan dan kebebasan biaya kuliah.

Sebaliknya PTH tidak memiliki tempat, gedung, administrasi tetap. Guru Besar terdiri dari Prof. Soediman dan lain-lainnya dibantu oleh beberapa dosen. Aku tidak mengetahui adanya Guru Besar lainnya dikarenakan masih duduk di tingkat I (C1). Uraian ini sekedar latar belakang PTH yang dikelola oleh Prof. Soediman, dengan berbagai kekurangannya, tiada fasilitas, tiada tempat kuliah. Jauh berbeda dengan RHS UI yang penuh dengan berbagai fasilitas, pembebasan dan kemudahan, bahkan mahasiswanya pun di asramakan di Jalan Pegangsaan Timur 17,Menteng. Berbeda dengan para mahasiswa PTH, yang tinggal di kampung-kampung, serba kekurangan dalam segala hal, kecuali keyakinan yang ditanamkan oleh Prof. Soediman.

Penanaman ini di lakukan oleh Prof. Soediman dalam kuliah-kuliahnya dengan menyampaikan sejarah perjoangan Indonesia sejak era Dr.Wahidin, Sumpah Pemuda dan seterusnya. Acap kali, kuliah-kuliah dirazia, mahasiswa diinterogasi oleh alat-alat Belanda bahkan ada yang ditahan/ disiksa. Prof. Soediman ditangkap, diperiksa, diteror. Tetapi Prof. Soediman tidak pernah menunjukkan sifat mau menyerah. Beliau mengatur tempat-tempat kuliah secara berpindah-pindah, demi menghindari hambatan-hambatan dari pihak musuh. Tempat-tempat kuliah berpindah-pindah, dari sebuah garasi satu ke garasi lain, bahkan kadang-kadang di tempat umum yang terbuka. Pelaksanaan perkuliahan, kegigihan dan keberanian Prof. Soediman inilah yang memberikan motivasi pada murid-muridnya untuk tetap berkuliah di bawah ancaman-todongan senjata Belanda.

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh