Bahaya-bahaya yang mengancam ideologi Pancasila

Bahaya-bahaya yang mengancam ideologi Pancasila*

oleh Padmo Wahjono

  

 

Ideologi Pancasila sebagai suatu ideologi yang menentukan wawasan kebangsaan ataupun nasionalisme kita akan bersifat nasional pula. Dengan demikian bahaya yang utama ialah segala ideologi maupun cara pandang yang menuntut universalisme (mengklaim) misalnya :

 

a)      Ideologi yang mendasarkan pada teori revolusi dunia yang bersifat ekstrim kiri.

 

b)      Ideologi yang bersumber dari pandangan fundamentalis yang menuntut pula akan adanya revolusi agama sedunia, yang disebut ekstrem kanan yang ekses utamanya ialah penyalahgunaan agama untuk pemusatan kekuasaan.

 

c)      Ideologi yang berkedok globalisasi yang sebenarnya tepat untuk teknologi, komunikasi maupun ilmu pengetahuan, namun diterapkan pada suatu ideologi yang pada masa Orde Lama disebut neo-kolonialisme, neo-kapitalisme, dan neo-imperalisme yang pada hakekatnya berupa penjajahan oleh yang ekonomi kuat.

 

d)      Aliran fikiran yang menuntut suatu hak dan kewajiban asasi yang universal dengan melupakan kedaulatan suatu negara yang bersumber pada kedaulatan rakyat sebagai jati diri suatu bangsa. Hal yang merupakan kesepakatan internasional di dalam hukum memerlukan ratifikasi dan tidak begitu saja dapat diterima sebagai hukum positif.

 

e)      Aliran fikiran yang feodalistik yang merasa secara kelahiran memiliki hak prerogatif dalam menguasai orang-orang di “wilayah”nya (landlordisme) dsb.

 

Disamping bahaya-bahaya ideologis tersebut juga ada bahaya non-ideologis yang bersumber dari sikap perilaku manusia yang tidak baik di dalam hidup berkelompok. Beberapa contoh dari bahaya non-ideologis tersebut misalnya :

 

·         Kesantaian yang menjurus ke kemalasan atau tidak bekerja keras.

 

·         Kriminalitas yang bersumber pada perilaku yang menyimpang.

 

·         Kemiskinan struktural yang tumbuh dari sistem yang dianut yang tidak sesuai untuk pemerataan dan peningkatan kemakmuran masyarakat.

 

Semua ragam bahaya baik yang ideologis maupun yang non-ideologis akan selalu mempunyai ciri-ciri yang berkembang sekalipun ciri pokoknya akan tetap. Untuk itu diperlukan suatu kewaspadaan dan ketajaman penganalisaan. Dalam rangka pembudayaan P-4 bahaya-bahaya tersebut dapat kita rinci dalam sikap perilaku, bahaya dalam berkonsultasi, dan bahaya dalam ber-GBHN.

 

 

* Dikutip dari buku “Masalah-masalah Aktual Ketatanegaraan oleh Padmo Wahjono” hal 49 – 50, Penerbit Yayasan Wisma Djokosoetono, Jakarta, 1991.

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh