Foto - foto

Foto-foto di halaman ini berukuran besar ; jadi kemunculannya akan sangat bergantung pada kecepatan internet Anda. Mohon kesabarannya.

Foto Prof Djokosoetono dan istri

Prosesi pengukuhan Doktor Gautama (Gouw Giok Siong) - didepan adalah Ibu Mutiara Djokosoetono sedangkan di sebelah Prof. Djokosoetono adalah Ibu Gouw Giok Siong.

 

Prof.Djokosoetono sedang memberi ceramah atau pidato dalam suatu kegiatan.

 

mochtar kusumaatmadja

Prof. Mochtar Kusumaatmadja saat menjadi mahasiswa FH dan IPK Universitas Indonesia -Dibelakangnya adalah Ketua Dewan Mahasiswa UI Hasan Ry (Rangkuti).

 

Prof Djokosoetono dan senat mahasiswa

Prof. Djokosoetono beserta Senat Mahasiswa FH dan IPK Universitas Indonesia - duduk di kanannya adalah Padmo Wahjono dan dikirinya adalah Kurnia Toha. 

 

Doktor Gautama beserta panitia pengukuhannya a.l. di bawah Jusuf Swasis, Amir Danuhusodo, dan Titi Adipura. Berdiri a.l Dedi Sumardi, T.Abdur Rahman. Toto Sugiarto, Saleh, Tati Budiarto, dan Masdiati.

 

Mardjono Reksodiputro beserta Prof. Zen Umar Purba dan Prof. Gautama.

 

Mardjono Reksodiputro beserta Prof. Sunaryati Hartono.

 

Mardjono Reksodiputro dan Nasti MR beserta Pak Paul Moedikdo (pendiri Jurusan Kriminologi FISIP-UI) di Kebun Bunga Tulip di Belanda - potret ini diambil bulan Maret 2003. 

 



Bapak Paul Moedikdo di rumahnya di Utrecht,Belanda bersama Mardjono Reksodiputro - potret ini diambil bulan Desember 2013. Pak Paul adalah dosen kriminologi di FHUI dan FISIP UI (1957 - 1967) - kemudian meneruskan mengajar sebagai dosen kriminologi di FH UnPad dan FH Universitas Jember, sebelum pindah ke Belanda menjadi dosen di Universitas Utrecht. Beliau adalah yang membimbing saya untuk menjadi dosen kriminologi di UI.

 

Di rumah Bapak Paul Moedikdo dan Ibu Greet (Cevennen 3 - Utrecht) bersama keluarga Mardjono Reksodiputro (Nasti MR, Harun R, Aditya dan Andika). Dalam kunjungan ke Belanda bulan Desember 2013. 

Mardjono R bersama Prof Nico Keijzer; teman lama sejak penyusunan KUHP Nasional tahun 1980-an. Dulu beliau bersama Prof Dietrich Schaffmeister sering diundang ke Indonesia untuk turut membantu Penataran Hukum Pidana dari Konsorsium Ilmu Hukum (kerjasama dengan Yayasan Kerjasama Hukum Indonesia-Belanda). 

 

Mardjono R dan Nasti MR bersama Prof. Hildegard Schneider (Dekan Fakultas Hukum Universitas Maastricht) dan Prof Grat Van Den Heuvel – gurubesar Kriminologi di Universitas Maastricht.

 

Ini mahasiswa berdiri di depan papan nama para Guru Besar Fakultas Hukum dan IPK UI - pada tahun 1950an akan terlihat Guru Besar mana yang hadir atau tidak.

 

Para mahasiswa pada awal tahun 1960an duduk dekat ruang ujian lisan untuk mewawancarai setiap mahasiswa yang baru selesai ujian - apa saja pertanyaan yang diajukan oleh para Guru Besar - mereka kemudian akan mendiskusikan jawaban yang bagaimana yang benar dan mendapatkan nilai tinggi.

 

Ini adalah ruang perpustakaan FH dan IPK UI - ruang perpustakaan sering agak ramai karena dipergunakan untuk mendiskusikan jawaban pertanyaan-pertanyaan ujian lisan - karena itulah ada peringatan dengan tulisan besar agar TENANG !

 

Pegawai tata usaha FH dan IPK diambil sekitar tahun 1960an sebelum peristiwa G30S - sebelah kiri berdiri depan adalah Pak Amat, ditengah (dengan peci) adalah petugas yang biasanya memukul gong tanda awal kuliah dan selesainya kuliah - di depan (jongkok dengan baju kotak-kotak) adalah Pak Mohtar supir jip merah dari Lembaga Kriminologi UI. 

 

 

Ini adalah Pak Tohir "asisten utama" Prof Djokosoetono; dengan tugas utama untuk menunggu kedatangan mobil Prof Djoko, membukakan pintu mobil, mengambil tas serta buku-buku Prof Djoko untuk dibawa ke kantor beliau. Tugas lainnya adalah melayani Guru Besar seperti menyediakan teh dan lain - lain.

 

Ini adalah Pak Hidayat yang sangat populer diantara mahasiwa karena tugasnya adalah mendaftarkan mereka yang akan ujian (lisan dan tertulis) dan juga menjawab pertanyaan tentang kelulusan. Atasan beliau (sebagai Kepala Tata Usaha) adalah Bapak Situmeang SH.

 

Ini adalah gong yang dipukul untuk tanda mulai dan selesainya kuliah - bapak ini sering kena marah mahasiswa kalau memukul gong terlalu awal sebelum kuliah seharusnya dimulai dan juga kena marah kalau memukul gong terlambat sehingga mahasiswa terlalu lama di dalam kelas - bingkai kayu gong ini memuat inskripsi yang menyatakan bahwa ini adalah hadiah dari Sultan Yogyakarta pada waktu pembukaan RH tahun 1924.

 

 

Ini adalah ruang Tata Usaha FH dan IPK di Salemba 4 - dalam ruangan ukuran 8 X 8 m ini duduk sekitar 15 - 20 pegawai Tata Usaha yang harus mengurus administrasi pendidikan, serta administrasi kepegawaian dan keuangan.

 

Ini adalah Gedung Lembaga Penyelidikan Masyarakat dari FH dan IPK UI - letaknya di depan RSCM, sekarang merupakan Gedung UKI - dahulu merupakan kantor dari Bapak Sulaeman Sumardi SH. MA, Ibu Dra Suyatni, dan Ibu Dra Postma. Lembaga ini merupakan cikal bakal pendirian bagian IPK dari FH, yang kelak memisahkan diri menjadi Fakultas IPK dipimpin oleh Prof Dr Selo Soemardjan dan Ibu Miriam Budiardjo, MA.

 

Ini adalah ruang rapat Guru Besar yang juga sering dipakai sebagai ruang ujian lisan oleh para Guru Besar. Prof. Djokosoetono biasanya mengambil ujian lisan di meja kerjanya; begitu pula Prof. Soediman Kartohadiprodjo. Tetapi Guru Besar lain sering memakai meja rapat ini dan menguji sekaligus dua sampai tiga mahasiswa. Apabila mahasiswa itu lulus maka akan diberi surat tanda lulus tetapi nilainya tercantum di buku besar nilai.

 

Tampak dalam foto ini : ditengah adalah Prof. Soepomo, di sebelah kanan adalah Prof. Soediman Kartohadiprodjo, selanjutnya Prof. Hazairin.

 

Foto bersama Guru Besar Universitas Indonesia. Di tengah (berpeci) adalah Prof. Djokosoetono, disebelah kanannya Prof. Slamet Iman Santoso, kemudian Prof. Soediman Kartohadiprodjo; dan ketiga dari kanan adalah Prof. Soebekti.

 

Prof. Soediman Kartohadiprodjo berpidato saat pengukuhannya sebagai Guru Besar UI tanggal 17 Januari 1953. Tampak Prof. Djokosoetono, Prof. Soepomo, Prof. Prijono, dan Prof. Soedjono Poesponegoro.

 

Ini adalah foto mantan Presiden RI - Bung Karno sedang bersepeda bersama Ibu Fatmawati. Kemungkinan besar foto ini berasal ketika Bung Karno berada di Bengkulu.

 

Bung Karno sangat percaya bahwa tugas utamanya adalah memberi semangat dan kepercayaan kepada rakyat, untuk menghilangkan rasa rendah diri rakyat Indonesia sebagai warisan dari penjajahan kolonial Belanda. Pidatonya yang lantang selalu berisi kalimat-kalimat yang kemudian dikutip oleh sumber-sumber media maupun oleh pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya, dijadikan sebagai kata-kata mutiara untuk menggugah semangat bangsa kita. Berdiri paling kiri adalah Mr. A.K. Pringgodigdo, Sekretaris Negara pemerintahan Bung Karno. 

 

 

Bung Karno sangat menekankan perlunya kita belajar dari sejarah. Dalam banyak pidato beliau sering diungkapkannya bahwa : "keadaan sekarang ini adalah akibat dari masa lalu, dan apa yang kita perbuat sekarang akan sangat menentukan masa depan bangsa kita". Salah seorang ilmuwan sejarah Belanda yang sering dirujuknya adalah Prof. Dr. Jan Romein. Foto diatas menunjukkan bahwa memang Bung Karno ini adalah juga orang yang suka humor.

 

Untuk mengobarkan semangat rakyat agar percaya diri, dan tidak mengandalkan bantuan luar negeri maka Bung Karno sering merujuk pada sejarah bangsa kita tentang kebesaran kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Beliau bersama dengan pemimpin India Nehru dan pemimpin Yugoslavia Tito mencanangkan sebuah kongres dunia menandingi PBB yang diberi nama CONEFO (Conference of The New Emerging Forces) dan untuk itu membangun sebuah gedung di Jakarta yang sekarang menjadi Gedung DPR RI. Disamping itu beliau juga mencoba menandingi Olympic Games dengan mencanangkan GANEFO (Games of The New Emerging Forces) . Gedung ISTORA dan gedung Gelora Senayan dibangun dengan dana dari Russia untuk tujuan itu. Yang terjadi kemudian GANEFO ini menjadi ke SEA Games. Jembatan Semanggi diciptakan dalam rangka kedua peristiwa besar tersebut.

 

Bung Karno dikenal juga sebagai seorang seniman, memang beliau tidak menciptakan barang seni tetapi beliau adalah seorang pencinta barang seni. Karena itu koleksi barang seni berupa lukisan dan patung banyak terkumpul di Istana Bogor tempat dimana Sekretariat Negara menyimpan barang-barang seni tersebut. Disamping itu kita harus mengakui bahwa banyak patung besar yang terpampang di Jakarta adalah atas saran dan pengarahan beliau, misalnya patung Selamat Datang di bundaran HI, patung Pembebasan Irian Barat di lapangan banteng, patung Gatotkaca di Pancoran (dahulu di sana terdapat markas AURI/MBAU). Yang terakhir adalah patung di bundaran senayan: patung ini kabarnya ingin menunjukkan seorang pemuda yang membawa obor api semangat, tapi karena kurang disosialisasikan maka orang-orang asing menamakannya "The Pizza Man". Bung Karno juga adalah yang memprakarsai serta memberikan pengarahan dirikannya Mesjid Istiqlal, Hotel Indonesia, Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu, Hotel Ambarukmo di Yogya, dan Hotel Bali Beach di Denpasar. Beliau dalam menggagas tidak hanya melihat dari aspek teknis (beliau adalah sarjana teknik sipil), tetapi juga dari aspek seni budaya.

 

Djokosoetono Research Center (DRC) didirikan di FHUI untuk menghormati Dekan pertama FHUI dan sekaligus mengajak para dosen untuk lebih bergiat di bidang riset. Ketua pertama adalah Topo Santoso, SH.MH,PhD dan yang sekarang adalah Melda Kamil, SH.MH,PhD. Masalah imigran yang diangkat ini adalah juga berkaitan dengan permasalahan bersama yang sekarang dihadapi Indonesia dan Australia.

Ketiga gurubesar ini memang pada waktunya mengampu matakuliah Filsafat Hukum.Yang paling kiri adalah Prof.Poernadi Poerbacaraka, yang ditengah adalah Prof.Soerjono Soekanto dan yang di kanan adah Prof Charles Himawan. Ketiganya sekarang (2013) telah almarhum.

Comments   

 
0 #1 Rudy Sutanto 2016-02-08 05:01
Assalamu Alaikum WW / Salam sejahtera

Senang sekali bisa mampir di website ini, melihat dan mengetahui almamater Opa saya, Prof.Meester.Ta n Tjeng Bie,SH yg merupakan alumni tahun 1937, atas nama keluarga saya ucapkan terimakasih pada admin dan salam utk seluruh almamater, vivat academica-vivat professores !!

Wassalaam,

dr.Rudy Sutanto,SpA. & keluarga
di Medan
Quote
 

Add comment

Administrator berhak menghapus komentar yang secara subyektif/obyektif dianggap tidak layak untuk ditampilkan.


Security code
Refresh