Ismail Suny Pencetus Extension Course oleh T.M. Daud Shah

Ismail Suny Pencetus Extension Course
oleh T.H.M. Daud Shah, SH


"Pengalaman adalah guru yang terbaik ", demikian bunyi alinea ke lima dalam kata Pendahuluan buku Ismail Suny berjudul "Mencari KEADILAN", yang ditulisnya sesudah bebas dari suatu masa penahanannya sejak 11 April 1978 - 9 April 1979 di Inherab Nirbaya.
Menjadi anggota GMD (Gerakan Mahasiswa Djakarta) merupakan kebanggaan tersendiri dan mengikuti per­peloncoan sebagai anggota GMD pada tahun 1953 yang cukup menghebohkan aparat keamanan di wilayah DKI, akibat "unjuk rasa" anggota-anggota baru terhadap seniornya, merupakan suatu hikmah yang dapat dijadikan sebagai suatu pengalaman dan pelajaran untuk saling tambah mengenal satu dengan yang lain bahkan menambah mempererat hubungan yang telah ada. Demikianlah pada akhir dari perpeloncoan tersebut penulis pertama kali mengenal Sdr. Ismail Suny yang sehari-hari bagi rekan yang dekat dengannya cukup dengan panggilan singkat "Suny". Keberadaan Sdr. Suny di tengah-tengah rekan mahasiswa Fakultas Hukum khususnya dan mahasiswa U.I. pada umumnya telah memberikan warna dan kehidupan tersendiri dalam kancah kegiatan para mahasiswa dari berbagai lembaga kemahasiswaan di Ibu Kota R.I. saat itu, terutama bagi lembaga kemahasiswaan yang bersifat extra universiter.
Penampilan Sdr. Suny yang menonjol di antara rekan­ rekannya, segera menjadi perhatian Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum U.I. (pada waktu itu kalau tidak salah Sdr. Eziddin-Alm.) untuk mengikutsertakannya dalam kepengurusan Senat sebagai Sekretaris, walaupun Sdr. Suny belum setahun menginjakkan kakinya di kampus Salemba. Dalam kepengurusan tahun berikutnya Sdr. Suny duduk sebagai Komisaris Senat dan setelah 2 tahun menjadi mahasiswa diangkat sebagai Asisten Prof. Mr. Sudiman Kartohadiprodjo, sekaligus pada saat yang sarna Sdr.Suny terpilih sebagai Wakil Ketua Senat Mahasiswa FH periode 1955-1957.
Dalam kepengurusan inilah penulis mulai lebih banyak berhubungan dengan yang bersangkutan, berhubung penulis dipercayakan untuk menduduki jabatan Sekretaris Senat Mahasiswa. Berakhirnya masa kepengurusan Senat, ternyata tidak berarti terhentinya hubungan penulis dengan Sdr. Suny, oleh karena Rapat Pemilihan Umum Ketua GMD periode 1956-1957 Sdr. Suny terpilih sebagai Ketua Umum GMD dan tanpa diduga sebelumnya, penulis kembali ditunjuk untuk rnenjadi Sekretaris Umum.
Pada tahun tersebut, Sdr. Suny berhasil memperoleh kenaikan Jenjang Jabatan Akademik sebagai Assisten Ahli sekaligus status kemahasiswaannyapun berakhir   setelah menempuh ujian Doktoral II dengan menyandang gelar "Mr"  = Meester in de Rechten" tepat waktu, yang merupakan Sarjana Hukum ke 285 lulusan U.I
(terdaftar September 1953 dengan Nomor Pokok 2357 - lulus 30 Agustus 1957).
Prestasi lainnya yang ditunjukkan oleh Sdr. Suny adalah kegiatannya di organisasi kemahasiswaan. Yang cukup mengesankan yaitu keberhasilannya meminta kesediaan Wali Kota Jakarta Raya Bapak Sudiro untuk duduk sebagai Pelindung GMD. Peran Senat Mahasiswa dalam masa kepemimpinannya, yaitu bersama-sama Pimpinan Fakultas (Dekan Prof. Mr. Djokosoetono, Sekretaris Fakultas: Prof. Mr. Soediman Kartohadiprodjo) sehubungan upaya menasionalisasikan tenaga-tenaga pengajar Fakultas yang dipegang bangsa asing (Belanda) dan menggantinya dengan Sarjana­ Sarjana Bangsa Indonesia sendiri dan menasionalisasi bacaan (literatur) dengan buku-buku dalam bahasa Indonesia yang prosesnya dilakukan secara bertahap.
Sejauh ingatan kami tidak ada rekan-rekan lain yang seangkatan dengan Sdr.Suny, yang berhasil menyelesaikan studinya tepat waktµ. Kelebihannya yang lain bahwa ia dapat menggandengkan studinya bersarna-sama dengan kegiatannya di bidang organisasi, bahkan ia masih sempat untuk menjalankan aktivitas bisnisnya, yang memang merupakan bakat  yang  diwarisi  dari Almarhum  orang  tuanya  Haji Muhammad Suny, seorang pengusaha/pedagang yang cukup dikenal dan disegani khususnya di Aceh Selatan sejak Pemerintahan Hindia Belanda (istilah yang populer dipakai voor de oorlog). Belum lagi peranan dan kesibukan Sdr. Suny dalam pelbagai organisasi mahasiswa/pemuda lainnya seperti posisinya sebagai Ketua PPMI (Perserikatan Perhimpunan-Perhimpunan Mahasiswa Indonesia), Wakil Ketua Dewan Pertimbangan BKSPM (Badan Kerja Sama Pemuda Militer), PERSAHI dan lain sebagainya, bahkan ia sering pulang pergi melawat ke berbagai negara sahabat bersama­ sama rekan mahasiswa lainnya, a.l. Sdr. Ismail Masan Metareum, SH.
"Perpisahan" kepemimpinan dan kegiatan Sdr. Suny di dunia kemahasiswaan "dirayakan" dalam suatu Dies Natalis GMD di Hotel Dharma Nirmala dan secara kebetulan sekaligus ia memperkenalkan seorang puteri Aceh yang baru saja dipersuntingnya sebagai pendamping yang setia yang akan menjalani masa suka duka dalam kehidupannya. Perayaan di atas rupanya merupakan pula moment perpisahan antara Sdr. Suny dengan penulis, oleh karena ia melanjutkan studinya di Mc Gill University (Canada) hingga memperoleh gelar M.C.L (Master of Civil Law), sedangkan penulis memasuki jenjang berumah tangga (1958).
Walaupun kegiatan penulis sehari-hari sejak itu sebagai Asisten Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem dalam mata kuliah Hukum Islam, akan tetapi kewajiban sendiri menyelesaikan studi sudah lama terbengkalai. Pada saat itu penulis baru berhasil mencapai tingkat pendidikan Sarjana Muda (C2) Hukum. Beberapa tahun kemudian mulai menyadari betapa banyaknya waktu yang telah berlalu tidak dimanfaatkan. Apakah kesalahan atau kelalaian tersebut merupakan "dosa orang lain"? Jawabannya, tentu saja "Tidak"!. Namun apa yang terjadi kemudian?. Bulan Januari 1960 Sdr. Suny membuat "kejutan" dengan kirimannya kepada penulis sebuah buku dari Montreal tulisan Wilfred Cantwell Smith betjudul "Islam in Modern History". Kenang-kenangan tersebut menyentakkan diri penulis dan merenungkan maksud pengirimannya. Disimpulkan, ini merupakan teguran halus dari seorang teman untuk bangkit kembali ke bangku kuliah.
Demikian sekelumit persahabatan penulis dengan Sdr. Suny sebagai awal dari suatu tulisan dalam rangka mernperingati usianya yang ke-70 agar menjadi jelas mengapa ia kami sebut "Self made Man".
Sekembalinya Sdr. Suny dan keluarga di Tanah Air, ia menghembus suatu pandangan segar bagi dunia pendidikan dengan memperkenalkan suatu sistem perkuliahan yang disebut dengan "Extension Course" pada Fakultas Hukum U.I. Pengalaman dan pengetahuannya dari Luar Negeri dicoba untuk diterapkan untuk kepentingan peningkatan pengetahuan bagi peminat ilmu hukum. Sdr. Suny mengamati bahwa pada era tahun 1950 - 1960, terdapat banyak sekali para Pejabat di pemerintahan yang memegang berbagai "posisi kunci", yang tidak di latar belakangi atau didukung oleh disiplin ilmu yang terkait dengan bidang tugasnya. Dalam hal ini sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa seorang kepala Biro Hukum atau kepala Bagian Hukum suatu Instansi tidak mempunyai pengetahuan ilmu hukum sama sekali, akan tetapi yang dibekalinya hanya "pengalaman praktek" semata-mata, yang diperoleh selama masa pengabdiannya dan posisi Kepala Biro/Bagian yang kemudian disandangnya, diakibatkan oleh karena Pejabat sebelumnya memasuki masa pensiun.
Sdr. Suny juga cukup jeli memperhatikan bahwa peranan Sarjana Hukum cukup cerah pada saat itu, apabila dilihat di berbagai Departernen/Instansi/Lembaga Pemerintah / Executif maupun Legislatif yang didominasi oleh para Sarjana Hukum. Bahwa pada era 30 tahun kemudian terjadi pergeseran, patut menjadi perhatian dan pertimbangan rekan-rekan para Sarjana Hukum.
Hal lain yang terkesan, berdasarkan pengalaman dan pengenalan penulis terhadap Sdr. Suny, bahwa apabila suatu usaha dan tujuan yang ingin dicapainya benar-benar diyakini dan diperjuangkannya dengan gigih, kenyataan menunjukkan selalu membuahkan hasil.