Kesan tentang Prof. Djokosoetono dari Suhadibroto

Kesan tentang Prof Djokosoetono dari Soehadibroto*

 

 

1.   Nama : Soehadibroto

a.    Masuk Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Universit Indonesia tahun 1956 dengan No. Pokok Mahasiswa 4949; diwisuda tahun 1961. Asisten Prof. Mr. DR. Hazairin, mata kuliah Hukum Adat.

 Pekerjaan terakhir : Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara.

b.Teman-teman kuliah dan belajar yang masih ada :

1.    Mangatas Nasution, mantan Hakim Agung

2.    Suwardi, mantan Hakim Agung.

3.    M. Syakur, mantan Deputi Gubernur BI

4.    Hamidi, mantan Dirut Taspen.

5.    Sidharta Suryadi, mantan Dirut Indovest, Nederland.

 

2.   a. Saya mengikuti kuliah Prof. Djokosutono, untuk Ilmu Negara dan Tata Negara.

Buku wajib Ilmu Negara, The Web of Goverment karangan Mac Iver dan Tata Negara dengan fokus Teori Konstitusi menjadi materi kuliah sejak 2 tahun sebelum saya.

b.    Profil Prof. Djokosutono dapat digambarkan dengan perawakan yang tingginya sekitar 160cm, agak gemuk; dalam memberikan kuliah selalu mengenakan celana putih, jas putih, kemeja putih tanpa dasi dan memakai kopiah/pici warna hitam. Beliau berkaca mata putih. Dari kamar kerjanya beliau berjalan kaki keruang kuliah yang diikuti oleh petugas yang membawakan tasnya.

Dalam memberikan kuliah selalu berdiri dikateder dan jari-jarinya selalu digerak-gerakkan seperti orang main kendang.

 

c.    Dapat disimpulkan bahwa saya sangat terpukau dengan gaya, suara dan sudah barang tentu materi kuliah yang beliau berikan.

Kuliah beliau untuk ilmu Negara selalu diberikan diaula FHUI Salemba no. 4 yang senantiasa penuh dengan mahasiswa tingkat pertama. Kursi diaula selalu penuh; yang tidak kebagian kursi duduk dilantai, bahkan dijendela-jendelapun dipadati mahasiswa.

Untuk bisa duduk dikursi dibagian depan perlu perjuangan.

Saya datang sebelum jam 07 pagi, ternyata kursi-kursi bagian depan sudah terdapat buku-buku atau tas yang artinya kursi tersebut sudah occupied oleh teman-teman yang datang lebih awal.

Ada teman-teman yang datang lebih pagi dari pada saya; ternyata ada yang datang malam hari untuk menaruh tanda (buku dan lain-lain) dikursi. Saya juga tidak mau kalah datang malam hari, menaruh tanda dikursi bagian depan dan pulang tidur ; paginya datang dengan tenang dan duduk dikursi depan.

Saya berusaha bisa duduk didepan dengan maksud agar bisa fokus mendengarkan kuliah beliau yang bagi saya sangat menarik.

 

d.   Saya dan saya kira juga teman-teman tidak pernah merasa jenuh apalagi bosan mendengarkan kuliah beliau ; tidak terasa kuliah beliau tau-tau sudah habis waktunya dan berakhir. Saya senantiasa merasa tidak puas mendengarkan beliau bicara, rasanya kurang saja, mungkin saya bisa dikatakan “kecanduan” dengan ilmu yang beliau berikan kepada muridnya.

 

e.    Betapa luasnya pengetahuan yang beliau kuasai. Hal ini tercermin dari kemampuan beliau bicara “meloncat-loncat” dari teori atau pendapat sarjana satu kesarjana lain, dari literatur satu keliteratur lain, namun tetap tersambung, terangkai dalam satu topic yang jelas dan utuh.

Teori, pendapat, literatur tersebut beliau sandingkan “diadu” dianalisa satu dengan yang lain dan barang tentu dikritisi dengan pendapat beliau sendiri.

 

f.     Methoda belajar beliau yang demikian itu juga ternyata kemudian diberikan dalam ujian tertulis ilmu negara. Ujian pertama ilmu negara saya tidak lulus karena saya sama sekali tidak faham maksud dari soal-soal yang diberikan.

Dirumah saya buat resume kuliah beliau dalam bentuk chart semua pendapat sarjana yang beliau sebut dalam kuliah kemudian saya sandingkan, barulah saya melihat bahwa pendapat berbagai sarjana tersebut selain jelas perbedaanya juga jelas kaitanya atau persamaanya. Tanpa membuat chart yang demikian itu rasanya saya tidak akan bisa menjawab soal ujian ke-2 dan lebih dari itu saya baru mengerti makna yang terkandung dalam cara beliau memberikan kuliah yang “meloncat-loncat” tersebut.

 

Dalam kuliah, beliau minta kami mahasiswa senantiasa mendekati masalah secara ilmiah yaitu dengan berfikir teratur dan comprehensive. Beliau memberikan pengertian ilmiah: berfikir teratur. Beliau mengatakan “weterschap : geordend denken”

 

g.    Untuk ujian tata negara, beliau mengambil lesan, pagi hari dirumah beliau jl Tosari. Beliau menguji sambil duduk santai hanya mengenakan piama dan nampaknya beliau juga belum mandi. Saya duga suasana santai tersebut sengaja beliau buat agar  kami yang ujian tidak groggy ; meskipun demikian tetap saja saya groggy dan saya tidak tau apakah saya menjawab pertanyaan beliau benar atau salah.

 

Saya merasa tidak lulus, karena pertanyaan beliau saya jawab singkat dan beliaulah yang melengkapinya panjang lebar bagaikan memberikan kuliah.

Beberapa hari kemudian, tidak saya duga nama saya ada didaftar pengumuman mahasiswa yang lulus ujian lesan Tata Negara. Saya tidak tau apakah beliau meluluskan saya karena bisa menjawab pertanyaan yang beliau berikan atau karena kasihan.

 

3.  Ada dua materi kuliah beliau yang menurut pendapat saya menarik karena teruji kebenaranya, yaitu tentang demokrasi dan demokrasi terpimpin.

Dalam kuliah teori konstitusi beliau jelaskan tentang demokrasi, bahwa untuk model demokrasi itu diperlukan kondisi tertentu antara lain tidak adanya kesenjangan yang lebar dalam kehidupan rakyat, sosial, ekonomi, pendidikan dan lain-lain.

Untuk Indonesia kondisi seperti itu belum terpenuhi sehingga model demokrasi  terpimpin yang lebih tepat. Demokrasi terpimpin sebagai tahapan untuk sampai pada model demokrasi, yaitu demokrasi materiil bukan hanya demokrasi formal.

 

Model demokrasi terpimpin disalah artikan dalam era Sukarno yang memimpin secara otoriter dengan berbagai  slogan untuk bisa memimpin Indonesia seumur hidup. Diera Suharto sebenarnya juga mempraktekkan demokrasi terpimpin dengan slogan yang berbeda yang pada hakekatnya juga otoriter untuk waktu yang lebih dari 30 tahun. Diera reformasi model demokrasi dua era terdahulu  ditinggalkan  dan dipilihlah model demokrasi liberal sebagaimana demokrasi pada negara-negara yang sudah mapan dibarat, meskipun belum memenuhi kondisi sebagaimana yang beliau maksud.

 

Prof. Djokosutono memperkenalkan model demokrasi terpimpin sebagaimana dipraktekkan pada zaman kerajaan, dimana menurut beliau rakyatnya hidup damai dan sejahtera.

 

4.        Penutup.

Tidak berlebihan bila alm. Prof. Djokosoetono diakui sebagai Guru Pinandita.


 *) Mantan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara dan mantan Asisten Prof. Hazairin dalam mata kuliah Hukum Adat.