Cerita singkat tentang Prof. Djokosoetono oleh Issukandar

Cerita singkat tentang Prof. Djokosoetono

oleh Issukandar *

 

Saya menyambut baik niat Yayasan Graha Djokosoetono dan akan memberikan cerita singkat tentang pengalaman dan pandangan pada Dekan pertama FHUI dan Dekan pertama PTIK; Prof. Djokosoetono SH. Saya sendiri Drs. Issukandar adalah alumni PTIK angkatan IV masuk tahun 1951 dan lulus tahun 1956. Bapak Prof. Djokosoetono sebagai Dekan memberi kuliah Ilmu Negara, Hukum Tata Negara, dan Hukum Perdata I.

Umur saya saat ini 85 tahun (lahir 6 Juni 1929); kawan-kawan seangkatan saya di PTIK (angkatan IV) dari 60 orang sekarang yang masih hidup tinggal 3 orang yaitu :

1.      Saya sendiri
2.      Drs. Soekartono
3.      Drs. Palgoeno

Sedangkan kawan-kawan di angkatan yang lain

1.      Angkatan I PTIK : sudah meninggal semua

2.      Angkatan II PTIK : tinggal 1 orang (Drs. Syahwan)

3.    Angkatan III PTIK : tinggal 3 orang yaitu Drs. Widodo Budidarmo (Mantan Kapolri), Prof. Dr. Awaluddin Djamin (Mantan Kapolri), Drs. Tatang Soelya.

4.      Angkatan V PTIK : sudah meninggal semua

Angkatan lainnya saya kurang mengetahui karena tahun 1956 saya sudah lulus.

Bapak Prof. Djokosoetono adalah seorang tokoh yang berwibawa dan seorang cendikiawan yang berbobot. Kuliah beliau tentang Ilmu Negara dan Hukum Tata Negara sangat luas dan mendalam. Beliau memberikan dalil-dalil hukum dan uraian yang baik. Dalam telaahan saya dalam hukum dan perundang-undangan di negara RI banyak yang seperti Prof. Djokosoetono. Saya pernah menjadi anggota MPR RI, asisten kamtibmas HANKAM, dan manggala di BP-7 Pusat; dan saya sering menjumpai peserta rapat-rapat penting yang membahas soal hukum atau perundang-undangan negara yang mengutip pendapat Prof. Djokosoetono sebagai dasar pendapatnya.

Dalam memberikan kuliah Prof. Djokosoetono memotivasi mahasiswa dengan pemikiran yang luas (tidak picik) dan mendorong para mahasiswanya untuk tekun dan banyak membaca buku agar dapat mencari ilmu yang luas dan selalu meningkat. Karena ilmu pengetahuan itu tidak ada batasnya; selalu berubah untuk perbaikan – selalu meningkat terus. Perkuliahan beliau tidak hanya sebagai ilmu pengetahuan saja tapi juga implementasinya di berbagai negara (terutama di Indonesia).

Republik Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat harus mempunyai dasar negara yang kokoh dan tujuan negara yang kita cita-citakan bersama. Negara RI mempunyai dasar negara Pancasila dan tujuan negara adalah sebagai negara yang mandiri berdaulat adil dan makmur. Semua itu dinyatakan dalam UUD 45 yang berlaku mulai jaman Orde Lama, Orde Baru, hingga jaman reformasi sekarang ini.

Pada jaman reformasi, UUD 45 diberi amandemen dan tambahan sedikit-sedikit. Menurut UUD 45 negara RI adalah negara hukum; sesuai pandangan Prof. Djokosoetono harus mempunyai perangkat hukum yang kuat dan baik. Ditata dalam perundang-undangan yang rapi, sistimatis dan terstruktur. Pembuat undang-undang harus teliti dan memahami serta mengacu pada dasar negara Pancasila dan tujuan serta kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Tidak boleh terpengaruh oleh kepentingan perorangan atau kelompok atau kepentingan dari negara lain.

Di jaman reformasi sekarang ini karena perubahan-perubahan perundangan sangat diperlukan maka peran pembuat undang-undang sangat penting dan didasari oleh akhlak dan perilaku yang baik, jujur dan setia kepada bangsa dan negara.

Bapak Prof. Djokosoetono memperingatkan kami agar jangan sok-sokan, jangan bersikap otoriter (mau menang sendiri) dan tidak menghargai pandangan orang lain, jangan ‘clomotan’ keluar dari landasan perjuangan kita, serta jangan ‘ndayak-dayakan’ (istilah Prof. Djoko untuk orang yang tidak tahu aturan).


* Mayor Jenderal Polisi (Purn);alumni PTIK tahun 1951 dan mantan Gubernur AKPOL.