Mengenang Prof. Djokosoetono oleh Sedia Oetomo

Mengenang Prof. Djokosoetono

oleh Sedia Utomo *

 

Nama Prof. Djokosoetono, SH saya kenal sejak saya diterima sebagai mahasiswa PTIK Angkatan VIII pada tahun 1959. Pada waktu itu kami sebanyak 113 orang pemuda dari seluruh Indonesia yang berasal dari anggota polisi maupun dari umum belajar bersama-sama. Dari jumlah tersebut, sekarang pada tahun 2014 tinggal tersisa 20 orang.

Angkatan VIII PTIK diberi nama oleh Prof. Djokosoetono,SH Angkatan MINTOROGO yaitu ksatria Pandawa yang sedang bertapa, karena menurut beliau negara pada waktu itu sedang dalam keadaan prihatin. Memang setiap angkatan di PTIK mulai dari Angkatan I sampai dengan VIII masing-masing selalu diberi nama tokoh-tokoh pewayangan.

Pengalaman kami sebagai murid Prof. Djokosoetono, SH antara lain, saat beliau sedang memberikan kuliah tidak ada mahasiswa yang berani berisik, semua diam mendengarkan mata kuliah dengan baik. Walau beliau berasal dari pendidikan Belanda tetapi apa yang beliau sampaikan selalu dikaitkan dengan kejiwaan dan keadaan Indonesia. Peninggalan  beliau  yang  saya  rasa  paling  besar  dan paling berharga

bagi kehidupan Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah dicetuskannya pedoman hidup polisi “TRIBRATA”. “TRIBRATA” dicetuskan pada tahun 1954 dan kemudian pada tahun 1955 dikukuhkan menjadi pedoman hidup Polisi.

Dengan perumusan yang singkat, tegas dan penuh arti, yaitu :

  1. Polisi ialah Rastra Sewakottama (abdi utama dari nusa dan bangsa)
  2. Polisi ialah Nagara Janottama (warga negara teladan daripada Negara)
  3. Polisi ialah Jana Anuçasana Dharma (wajib menjaga ketertiban pribadi dari rakyat)

TRIBRATA merupakan Tiga Brata yang lebih tinggi daripada sumpah karena berasal dari dalam jiwa kita yang dengan kesadaran tinggi bertekad untuk tetap menjunjung tinggi pedoman hidup tersebut.

Sangat disayangkan bahwa oleh generasi kepolisian RI penerus yang tidak mendapat kesempatan belajar langsung dari Prof. Djokosoetono, SH mungkin kurang dapat diresapi makna yang terkandung di dalamnya dan kemudian telah diubah perumusannya. Kiranya perlu diadakan kajian kembali mengenai ajaran Tribrata sebagai pedoman hidup kepolisian tersebut oleh Kepolisian RI dengan mempelajari naskah sejarah Tribrata.

Pengalaman pribadi saya dengan almarhum Prof. Djokosoetono, SH adalah ketika saya mengikuti ujian lisan dari beliau pada waktu beliau sakit. Suatu bukti bahwa beliau mempunyai tanggung jawab yang sangat tinggi terhadap anak didiknya, walaupun dalam keadaan sakit sekalipun sambil tiduran di tempat tidur kami 3 orang mahasiswa PTIK diterima sekaligus dan diperintahkan saling bertanya dan menjawab. Pada suatu waktu ada pertanyaan dari kawan saya yang ditujukan kepada saya, yang menurut beliau jawaban saya salah. Dengan spontan beliau bangun dari tiduran dan menanyakan ulang jawaban atas pertanyaan kawan saya yang menurut beliau salah tadi dengan mengucap : “Lha kalau itu apa?” kata beliau. Kami bertiga sangat kaget. Untungnya saya dapat menjelaskan jawaban saya yang menurut beliau salah tadi dengan baik dan beliau puas atas jawaban saya. Kalau tidak, mungkin saya sudah di-DO pada waktu itu.

Pengalaman lain lagi adalah pada waktu beliau sakit dan memerlukan transfusi darah. Kami seluruh mahasiswa PTIK disiapkan untuk menyumbang darah. Kebetulan golongan darah saya A, sama dengan golongan darah beliau dan siaplah kami untuk diambil darahnya. Saya merasa bangga bahwa saya pernah menyumbangkan darah untuk Prof. Djokosoetono, SH.

Demikian beberapa kenangan saya yang saya ingat mengenai beliau.

Yang jelas Prof. Djokosoetono, SH merupakan sosok cendekiawan yang langka dan sulit dicari tandingannya.

 

* Mayor Jenderal Polisi (Purn); alumni PTIK tahun 1959.