Kenangan tentang Prof. Djokosoetono – dari Lies Soegondo

Kenangan tentang Prof. Djokosoetono – dari Lies Soegondo*


 

 Nama saya Lies Soegondo; lengkapnya Sulistyowati Soegondo. Masuk FHUI tahun 1958 dan lulus tahun 1963. Sekarang tinggal di komplek Kehakiman – Utan Kayu. Sejak lulus FHUI saya masuk wilayah peradilan dengan menjadi staf ketua MA Pak Wirjono Prodjodikoro. Dari beliaulah saya belajar tentang perkara-perkara yang masuk tingkat kasasi di Mahkamah Agung. Pada saat itu Pak Wirjono juga merangkap jabatan sebagai Menteri Koordinator untuk Kompartimen Hukum dan Dalam Negeri. Saya sendiri akhirnya berkarir di lingkungan MA.

Pengalaman saya dengan Prof Djokosoetono sejak masuk tingkat I (persiapan) di FHUI dan mendapat mata kuliah Ilmu Negara. Saya kuliah bersama-sama dengan mahasiswa dari PTIK dan PTHM. Tidak heran apabila saat itu ada mahasiswi UI yang dekat bahkan akhirnya menikah dengan mahasiswa PTIK/ PTHM.

Bagi saya kuliah Pak Djoko sangat menyenangkan, tetapi karena saya berasal dari SMA diluar Jakarta (SMA 1 Madiun) maka pada awalnya terasa membingungkan dan sulit mencerna. Tetapi lama-kelamaan setelah mengamati gerak-gerik Pak Djoko; saya malah sangat mendukung  karena  pikiran  saya  sudah  terbuka dan mampu mencerna apa yang dimaksud oleh Pak Djoko. Beliau adalah figur dosen yang kalem dan bersikap seperti orang tua pada anak-anaknya. Apabila berbicara; betul-betul dari hati. Berbeda dengan kebanyakan dosen jaman sekarang. Beliau juga sangat sabar dan rinci dalam menjelaskan dengan contoh-contoh yang nyata. Contoh-contoh tersebut biasanya diambil dari apa yang terjadi di sistim pemerintahan kita saat itu. Yang saya sangat terkesan misalnya contoh-contoh yang mengkritik kebijakan Presiden Soekarno.

Sampai sekarang saya menganggap yang dilakukan Pak Djoko adalah karena beliau menghendaki diterapkannya demokrasi yang murni di Indonesia. Tapi pada saat itu syarat-syarat belum terpenuhi dan muncullah pemikiran adanya Demokrasi Terpimpin.  Menurut saya sendiri demokrasi ini harus dilakukan sesuai dengan yang ada di Pembukaan UUD 45.

Semasa kuliah : guyonan Pak Djoko yang saya ingat adalah istilah ‘ndayak-dayakan’ yang digunakan beliau untuk menyindir perilaku pejabat yang tidak sesuai dengan jabatannya. Selain itu ada pula istilah/ guyonan : ‘jangan mbebek atau jangan mem-bebek’. Artinya adalah galilah kreativitas mahasiswa sendiri; kalau perlu berdialog dengan dosen/guru besar. Jadi jangan sekedar ikut-ikutan. Ini hikmah yang saya peroleh dari Pak Djoko. Berani ber-kreasi, berani berpendapat, dan berani mempertahankan pendapat. Kalau memang ternyata kita salah; maka kita harus ber-besar hati untuk menerima dan tidak dendam.

Kritik Pak Djoko pada pemerintahan Presiden Sukarno sangat tepat karena memang Orde Lama ada penyimpangan. Sayangnya Orde Baru pun belum dapat mewujudkan apa yang di-cita-citakan Pak Djoko; karena ternyata Pak Harto ingin menjadi Presiden seumur hidupnya. Menurut saya era reformasi seharusnya memegang prinsip ‘dari rakyat untuk rakyat’. Nyatanya masih ada hal yang belum mengena misalnya masalah yang menyertai pilkada langsung. Para pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat ternyata menyalahgunakan kepercayaan rakyat; dengan melakukan korupsi.

Pak Djoko adalah seorang priyayi dari Solo; teman dekat Pak Wirjono Prodjodikoro dan Pak Mr. Soesanto Tirtoprodjo (mantan Menteri Kehakiman). Istrinya Pak Soesanto adalah kakak dari Prof. Satochid Kartanegara (mertua saya). Dulu Pak Satochid adalah wakil Ketua MA yang pertama; sedangkan ketua MA pertama adalah Dr. Mr. Koesoemah Atmadja.

Pak Djoko itu sangat ‘njawani’ atau memegang teguh adat Jawa. Jadi hubungan keluarga Pak Djoko, keluarga Pak Wirjono, dan keluarga Pak Soesanto juga sangat dekat. Istilahnya ‘mangan ora mangan kompoel’ atau makan tidak makan asal kumpul. Saya kenal baik dengan Ibu Djokosoetono (saya memanggil beliau Tante Liem) dan anak-anak Pak Djoko.

Pada kesempatan kumpul-kumpul itulah saya pernah dengar ledekan bahwa dulu Pak Djoko ‘sulit lulus’ dari RH. Untunglah dosen beliau Prof. Logeman mempunyai ide untuk menguji Pak Djoko sambal jalan-jalan dengan mobil agar suasananya lebih santai. Karena kalau ditanya secara formal maka Pak Djoko tidak lulus-lulus. Memang ternyata dengan cara seperti itu Pak Djoko bias menjawab pertanyaan –pertanyaan dengan sangat baik dan akhirnya lulus dengan mendapat nilai cumlaude.

Waktu saya kuliah dengan Pak Djoko; nilai tertinggi kalau tidak salah adalah 4. Nilai 5 hanya diberikan untuk dosen/ professor. Untuk mata kuliah ilmu Negara saya dapat nilai 3. Untunglah saya tidak pernah mengulang. Teman seangkatan saya saat itu adalah Prof. Dr. Sri Setyaningsih (Dekan FHUI periode tahun 1997 – 1999).

 

* Mantan Dirjen Badan Peradilan Umum dan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung dan mantan anggota Komnas HAM.

** Tulisan ini adalah hasil wawancara yang sudah disetujui.