Selayang pandang dan kesan kuliah dari Prof. Mr. Djokosoetono oleh Giatika Hamdani

Selayang Pandang dan Kesan Kuliah dari Prof. Mr. Djokosoetono

oleh Giatika Hamdani*

 

Saya Giatika Hamdani; lulus dari Sekolah Menengah Atas 1 – Budi Utomo, Jakarta pada tahun 1952. Setelah dipikirkan secara cermat dan mendalam untuk meneruskan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi, saya telah memilih untuk mengikuti kuliah pada Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FH dan IPK) Universitas Indonesia di jalan Salemba Raya no 4 Jakarta. Dengan alasan (anggapan) bahwa “hukum” merupakan pengetahuan yang paling mendasar bagi profesi di bidang manapun.Karena semua kegiatan berlandaskan “hukum” serta pilihan ini adalah yang paling cocok dan sesuai dengan pemikiran bakat studi saya sebelumnya.

Saat menjadi mahasiswa FH dan IPK tahun 1952, saya masuk bersama kakak saya Noerayati Hamdani; yang juga lulusan SMA 1 Budi Utomo.

Kami mulai kuliah pada bulan September 1952. Dekan (ketua Fakultas) pada saat itu adalah Prof. Mr. Djokosoetono yang lazim dikenal sebagai “Pak Djoko”. Prof. Mr. Djokosoetono penampilannya ganteng, parlente dan ala priyayi. Tapi orangnya sangat sederhana dan teliti.

Sebagai mahasiswa yang baru pertama kali mengikuti kuliah, saya sangat serius dan penuh keingintahuan. Ingin tahu apa yang Pak Djoko ajarkan sesuai dengan apa yang berlaku pada masyarakat waktu itu.

Pada tahun pertama, kami kuliah bersama-sama dengan mahasiwa PTIK dan PTHM, jadi suasananya sangat ramai. Tetapi kami beruntung karena diantara mahasiswa PTIK yang mengikuti kuliah; ada beberapa orang yang pandai membuat diktat dan mencatat secara sistimatis bahan kuliah yang diberikan oleh Pak Djoko. Hal ini sangat membantu terutama bagi mahasiswa yang kurang/tidak dapat mengerti seluruh/sebagian bahan kuliah yang diajarkan.

Kuliah Prof. Mr. Djokosoetono sangat luas dan menarik. Untuk mata kuliah Ilmu Negara pada waktu itu kita harus membaca dan mempelajari banyak buku yang ditulis oleh professor atau ahli hukum dari Jerman, Perancis, Inggris, Belanda, dll. Keharusan membaca buku-buku berbahasa Belanda membuat banyak mahasiswa (yang awalnya kurang/tidak menguasai bahasa tersebut); terpaksa belajar bahasa Belanda agar dapat mengerti buku-buku tersebut.

Selain itu tidak kalah pentingnya kami harus mempelajari buku-buku yang disusun atau dibuat oleh para ahli hukum Indonesia seperti Prof. Mr. Soepomo berjudul “Hubungan Individu dan Masyarakat dalam Hukum Adat”, serta buku-buku karya Prof. Mr. Soediman Kartohadiprodjo, Prof. Mr. Hazairin, dan banyak lainnya.

Saat mengajar, Pak Djoko membawakan materi kuliah dengan cara yang sangat menarik. Pemaparannya luas dan panjang, serta membandingkan dan menghubungkan pendapat-pendapat hukum dari para ilmuwan/pakar hukum luar negeri (baik dari blok barat ataupun blok timur).

Dalam memberikan kuliah, Pak Djoko selain sangat serius kadang juga suka mengkritik secara bercanda/guyon mengenai situasi dan keadaan hukum pada saat itu. Istilah yang sering beliau pakai adalah “ndayak-dayakan”.

Ada kalimat yang terngiang di telinga saya karena sering diucapkan oleh Pak Djoko pada saat kuliah. Beliau berkata “halverwege blijven steken”; dimana maksudnya agar para mahasiswa harus selalu bekerja keras dan belajar secara teratur dan sistimatis. Agar (bidang) apapun yang dicita-citakan dapat tercapai dan jangan sampai “macet di tengah jalan”.

Saya juga bisa mendengar dan mempelajari pendapat dan pemikiran Pak Djoko dari para Asisten beliau di FH dan IPK waktu itu. Para Asisten saya kenal karena merupakan teman-teman satu angkatan saat masuk FH dan IPK misalnya : Sdr. Padmo Wahjono, Sdr. Arifin Kadarisman, Ibu Tapi Omas Ihromi-Simatupang.

Pada saat itu saya juga diangkat sebagai Asisten Prof. Mr. Lie Oen Hock untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum di Fakultas Ekonomi UI. Tugas saya adalah mengambil testimonium, memberikan kuliah tambahan, serta memberikan asistensi tentang perundang-undangan.

Pertemuan saya dengan Pak Djoko tidak begitu banyak; kecuali saat mengikuti kuliah dan ujian Ilmu Negara serta beberapa kuliah lainnya. Pada bulan Oktober tahun 1958 saya lulus dari FH dan IPK; ijazah/surat tanda kelulusan saya ditandatangani oleh Prof. Mr. Djokosoetono selaku pimpinan fakultas.

 

Beberapa teman Asisten Pengantar Ilmu Hukum pada Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum UI yang masih ada sekarang antara lain :

  • Sdr. Arman Bustaman SH; pensiunan PNS Departemen Pertambangan – sampai sekarang masih menjadi pengajar di Fakultas Hukum UI
  • Ny. Aisyah Arman Bustaman SH
  • Prof. Dr. Tinneke Longdong
  • Prof. Dr. Louise Magdalena Gandi

Teman-teman saya tersebut pada umumnya masih mencurahkan diri demi kemajuan pendidikan hukum pada umumnya.

Kakak saya Dr. Noerajati Soerjadi SH sejak tahun 1961 telah menjadi pengajar tetap di Fakultas Hukum UI dan mengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum dan Bahasa Belanda. Pada tahun 1997 lulus S-3. Beliau pernah menjabat Kepala Biro Pendidikan, Ketua Jurusan Ilmu Hukum Dasar, serta Pembantu Dekan I – Bidang Akademis pada tahun 1988 – 1991. Saat menjadi PD I, yang menjadi Dekan adalah Prof. Mardjono Reksodiputro SH. MA.

 

* Mantan Staf Biro Hukum Departemen Perindustrian dan mantan Dosen FHUI mata kuliah Hak Atas Kekayaan Intelektual.

** Tulisan ini adalah hasil wawancara yang sudah disetujui.