Prof Mr. Djokosoetono; dosenku yang aku kagumi oleh Roesnastiti Wirjosepoetro

Prof Mr. Djokosoetono; dosenku yang aku kagumi

oleh Roesnastiti Wirjosepoetro*

 

Pertama-tama saya mengucapkan syukur Alhamdulillah bahwa saya sebagai anak bangsa pernah mendapat didikan dari Prof Djokosoetono pada tahun 1960 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui mata kuliah Ilmu Negara; bertempat di jalan Salemba Raya no 4 – Ruang Auditorium.

Selama perkuliahan beliau, saya sangat kagum dan sangat berkesan pada pemikiran-pemikiran yang beliau berikan, antara lain bagaimana beliau mengemukakan bahwa ada kesamaan antara masyarakat Amerika dengan masyarakat Indonesia yaitu sama-sama merupakan masyarakat yang dinamis. Karena Amerika bersandar Eropa Barat, Indonesia juga bersandar Eropa Barat.

Menurut Prof Mr. Djokosoetono pada kuliahnya tahun 1960, di Indonesia yang dinamis itu hanyalah gembong-gembong partai, hanyalah para intelek, hanya kaum elit, hanya ‘the ruling class’. Menurut Prof Mr. Djokosoetono berdasarkan penyelidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, di desa tidak tampak dinamika ini. Desa sekarang sama saja dengan desa dulu. Masih tetap statis.

Pemikiran beliau ini sangat menarik bila dihubungkan dengan situasi Indonesia masa kini karena masih relevan.

Selanjutnya mengenai demokrasi, Prof Mr. Djokosoetono dengan mengacu pada buku KRANENBURG, dalam kuliahnya membedakan tiga macam demokrasi yaitu :

1.      Demokrasi parlementer : Overwicht pada parlemen, misalnya : Inggris, Perancis, Belanda.

2.      Demokrasi dengan pemisahan kekuasaan : ‘check and balance’ evenwicht van machten seperti di Amerika Serikat, murni trias politica. Badan Legislatif sederajat dengan Badan Eksekutif; demikian juga sederajat dengan Badan Yudikatif.

3.      Demokrasi dengan pengaruh langsung dari rakyat : bukan DPR tapi rakyat sendiri yang berkuasa seperti di Swiss. Ada referendum dan ada volksinitiatif. Kalau referendum, rencana datang dari pemerintah; diberitahukan dulu kepada rakyat, rakyat setuju baru di-undang-undangkan. Kalau volksinitiatif rencana datang dari rakyat.

Ternyata menurut Prof Mr. Djokosoetono bahwa Belanda, Amerika, dan Swiss bentuk negaranya sama yaitu demokrasi tapi bentuk pemerintahannya berbeda.

Bagaimanakah kuliah beliau ini apabila dihubungkan dengan situasi demokrasi di Indonesia pada saat ini; khususnya apabila dihubungkan dengan sistim pemilihan Presiden tahun 2014 yang langsung oleh rakyat tetapi kemudian oleh DPR yang dibentuk tahun 2014; dirubah pemilihan Kepala Daerah menjadi tidak langsung harus melalui DPR. Apakah ini merupakan kemajuan ataukah justru merupakan suatu kemunduran ?

Demikian pemikiran-pemikiran Prof Mr. Djokosoetono yang dikemukakan pada tahun 1960 yang masih relevan untuk menjadi solusi kenegaraan pada saat ini. Itulah yang saya kagumi dari beliau.

Akhir kata pada tahun 1960 sebagai mahasiswa FHUI angkatan ’60 saya berteman dengan antara lain adalah : Siti Sudjarini, Toeti, Thea, Villa, Ida, Moendi Poernomo, Ali Purwito, Zoelva. Sedangkan teman diatas angkatan saya karena dia masuk FHUI tahun 1956 adalah Bapak Wilfred Aritonang; pensiunan Asisten Pembinaan di Kejaksaan Tinggi Surabaya yang pada saat ini menjadi teman senam di fitness centre Manggala Wanabakti. Kesan Pak Wilfred mengenai Prof Djokosoetono adalah orang bebas, pure science, dan suka memberi pendapat/kritik. Kesan itu menurut saya cocok sekali disaat hiruk pikuk politik saat ini. Semoga tulisan ini ada gunanya. Amien.

 

* Pensiunan Notaris dan mantan Dosen Jurusan Notariat FHUI.